Peran Islam dalam Melapangkan Jalan Pencerahan bagi Dunia Barat

 

 Ahmad Mujib MA

  Pendahuluan

Sebagian besar sejahrawan melukiskan jaman pertengahan sebagai periode yang luar biasa gelap, terkait eksistensi manusia. Gagasan ini sesungguhnya adalah gagasan kependetaan; gagasan yang muncul dari kebudayaan barat dan memusatkan semata pada sejarah kebudayaan barat. Memang, Abad pertengahan adalah abad kegelapan bagi eropa, tapi bukan berarti pada masa-masa itu kegelapan menyelimuti seluruh dunia. Pada kenyataannya, saat itu justru, peradaan Islam sedang berada di puncak-puncaknya kejayaan

George Sarton dalam bukunya Introduction to The History of Science, sebagaimana yang dikutip oleh Budi Yuwono, menulis, “Cukuplah kita sebut nama-nama besar yang tak tertandingi pada masa itu oleh orang barat : Jabir ibnu Hayyan, al Kindi, al Khawarizmi, al-Farghani, ar-Razi, Tsabit ibn Qurrah, al-Battani, al-Farabi, Ibrahim ibn Sinan, al-Mas’udi, at-Tabari, Abu al-Wafa, Ali ibnu Abbas, Abu Al-Qasim, Ibnu Al-Jazzar, al-Biruni, ibnu Sina, ibnu Yunus, Al-Kashi, ibn al-Haitsam, Ali ibnu Isa al-Ghazali, Umar Kayam. Jika seseorang mengatakan pada anda bahwa Abad Pertengahan sama sekali steril dari kegiatan ilmiah, kutiplah nama-nama di atas. Ketahulilah bahwa mereka semua itu hidup dan berkarya dalam Periode yang amat singkat dari 750 hingga 1100 M,”(Pervey Hoodbhoy, 1997: 110)

Demikian juga Jackson J. Spielvogel merefleksikan kontribusi kaum muslim dalam bidang budaya dalam ilmu pengetahuan dan dampak kepada timbulnya peradaban Barat.

“Umat Islam telah menciptakan budaya kosmopolitan yang sangat briliant. Pada waktu eropa barat masih berada dalam kehidupan pedesaan dengan kampung-kampung kecilnya, selama abad-abad pertama dari dominasi kerajaan arab. Dunia Islamlah yang menyelamatkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan karya-karya besar Plato dan Aristoteles kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Karya-karya itu kemudian dijaga di dalam perpustakaan yang disebut sebagai “Baitul Hikmah” di Baghdad dimana karya-karya itu dibaca dan dipelajari ilmuan muslim. Perpustakaan itu juga memuat buku-buku matematika yang dibawa dari India.

Universitas-universitas eropa kemudian memanfaatkan ilmu pengetahuan Islam setelah karya-karya tersebut diterjemah ke bahasa latin dari arab. Ilmuan-ilmuan muslim bukan hanya dipuji karena menyumbang banyak ilmu pengetahuan ke barat, tetapi juga karena mereka sudah memajukan dunia mereka sendiri

Karena jasa-jasa para pemikir Islamalah barat bisa keluar dari cengkraman abad kegelapannya. Semua itu bisa dilihat dengan jelas dari betapa membanjirnya karya-karya Islam memenuhi rongga-ronggoa intlektual barat. Masa-masa antara abad kesebelas hingga akhir abad ke sembilan belas, dengan sangat tekun orang-orang barat menelaah karya demi karya dari intlektual muslim, mengutipnya, menyadurnya selain juga mengembangkannya

Sebut diantara karya-karya besar intlektual muslim waktu itu, kitab al-Hawi, al Mansuri, buah briliant ar Razi dibidang kedokteran, dengan segera terjemahannya beredar luas di eropa antara tahun 1488 dan 1542. Kitab al-Qanun fi at thib, yang membahas soal-soal medis karya ibnu Sina yang menjadi referensi utama di universitas perancis dan italia.

Di bidang matematika, Kitab Hisab al Jabar wa al Muqabalah karya al-Khawarismi dipakai dalam mensosialisaikan ilmu Jabar di eropa. Kitab al Jiz as Sabi yang dikenal di eropa dengan judul opus astronomicus. Buah karya al Batani menjadi pijakan Copernicus dalam meniti tangga-tangga intlektual. Tak hanya dalam ranah sains. Dalam wilayah filsafat dan sastra, Pemikir Italia, Niccolo Machiaelli, bukunya Il Principe bersumber dari karya Abu Zandaqah, “Siraj al-Muluk” (Gharib Jaudah, 2007: 65)

Dante Alighieri bukunya la Divena Comedia terpengaruh oleh Abu A’la al-Ma’ari dalam bukunya Risalah Ghufran Kitab Hayy bin Yadzan karya ibnu Thufail yang menginspirasi Robinson Crouso dalam karya-karnya. Alfu lailah wa dimnah ditiru Shakesper dalam dramanya berjudul, “Akhir yang menentukan“. Dll.

Demikian bisa dikatakan, kaum muslim telah berjasa bagi barat bukan hanya menyelamatkan peradaban Yunani dari kepunahan, tapi juga telah memberikan sesuatu yang baru yang mengantarakan bangsa barat pada masa pencerahannya.

Fenomena Dark Age di Eropa

Masa-masa itu (antara abad ke 7 sampai 13) dunia Barat mengalami masa-masa kegelapan dunia pengetahuan yang lazim disebut dengan dark age. Di sana, begitu banyak aturan yang memberangus dan mempersempit laju pemikiran. Setiap kegiatan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang dikhawatirkan akan mengancam otoritas geraja, secara sistematis akan mengalami pembredelan, teori-teori yang bertentangan dengan dogma gereja di cap sebagai ilmu sihir, dan pencetusnya adalah para ahli bidah yang harus dihukum keras. Mulai dari pencopotan jabatan, pengucilan, penyiksaan dan tak jarang yang harus berakhir dengan kematian.

Di bawah kepemimpinan Constantine, perpustakaan umum dibubarkan atau ditutup, sementara uskup Gregory menghilangkan kajian-kajian ilmiah yang berada di Roma dan melarang semua studi yang mempelajari tentang tulisan Yunani. Belajar kemudian dicap sebagai hal yang mengandung unsur magis dan dianggap sebagai pelanggaran yang hukumannya siksaan maupun kematian. (Casim Igram, 2010: 206)

Sejarah eropa menyiksakan kenangan miris tatkala, Bruno dibunuh hidup-hidup atas kejahatannya karena telah menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya. Pada masa inilah kemerosotan moral dan ilmu pengetahuan terjadi di dunia barat sehingga dunia Islam menegakkan ilmu pengetahuan dengan menyelamatkan tulisan-tulisan kuno Mediterrania dari kehancuran sejarah

Roger Bacon (1214-1292) doktor mirabilis Franciscan, pada masa kekuasaan Edward I di Inggris dipaksa menghentikan riset eksperimen sains yang juga telah menyebabkan kuliah yang diberikannya di Paris tentang karya Aristoteles tentang Liber the Causis, menyebabkannya terdepak dari Oxford dan kembali ke Paris untuk hidup di bawah pengawasan gereja. Ia dituduh sebagai amatiran ilmu akemi setan dan khalayak digerakkan gereja meneriakkan tangan tukang sihir ini harus dipotong dan orang islam ini harus diasingkan. (Mujtaba Musawi, 2010: 165)

Masa-masa itu, tempat-tempat intlektualitas Barat menjadi benteng yang sangat besar yang dikembangkan oleh para raja semi-barbarik yang tidak dapat membaca. Pada waktu itu, sebagian besar kaum terpelajar di cristendom terdiri dari para pendeta yang sangat bodoh yang menghabiskan waktunya sebagai orang alim dengan berbagai karya besar jaman purbakala untuk mendapatkan kertas kulit yang mereka butuhkan sebagai prasasti dari karya mereka (Gustave Lebon, 2003: 120)

Kala umat Islam dengan suka cita menikmati buah pengetahuan yang melimpah ruah, saat itu, di barat, gereja sedang menghukum Galileo karena membenarkan teori Copernicus tentang orbit bumi yang mengitari matahari dan memaksanya untuk melakukan pengakuan dosa.

“Saya Galileo, dalam usia 70 (1633) di atas lutut saya, di hadapan Yang Mulia (Paus dan Uskup) dengan kitab suci di hadapan saya, menggenggamnya dengan tangan saya dab menciumnya sembari bertobat dan mengingkari klaim tolol saya, bahwa bumi berputar dan menganggap klaim itu sebagai bid’ah” meski diam-diam tetap berkomat kamit Eppure si Muove

Padahal, 500 tahun sebelumnya, seorang ahli astronomi Islam, Umar Khayam dari Neisabur telah mencitakan kalender Jalali, dengan perhitungan yang detail, tepat saat bumi tiba pada titik akhir orbit dan mengawali titik orbit berikutnya mengitari matahari dalam putaran waktu siang-malam

Bangsa Eropa adalah bangsa Barbar (bangsa yang kejam) sampai-sampai mereka tidak dapat merasakan keadaan mereka sendiri hal ini tidak terjadi sampai abad ke-11 dan abad ke-12. eropa waktu itu betul-betul berada pada masa-masa yang suram

Sebuah kisah menarik dikutip oleh W Montgomery Watt dalam bukunya The Influence of Islam on Medieval Europ, cukup menjadi gambaran yang terang perihal betapa kelamnya peradaban eropa waktu itu, jika dibandingkan dengan peradaban Islam yang ada.

Usama ibnu Munqith, penulis sejarah yang hidup masa itu menuturkan. Pamannya, seorang putra mahkota muslim mengirimkan seorang dokter ke tetangganya seorang Frank, atas permintaan tetangganya itu. Setelah sang dokter kembali, maka berceritalah ia tentang pengalamannya

Dokter itu diminta untuk mengobati seorang pangeran dan seorang perempuan. sang pangeran terserang bisul bernanah di salah satu kakinya. Untuk mengatasinya, dokter arab itu menggunakan salep untuk mengeluarkan mata bisul. Bisul itupun pecah dan perlahan mengempes. Sementara itu sang wanita menderita penyakit yang disebut kekeringan, meskipun bagaimana persisnya kondisi serangan penyakit itu tak diketahui secara pasti.

Untuk mengatasi penyakit ini, dokter muslim memberikan obat yang tegas, anatara lain dengan memperbanyak buah-buahan segar. Pada saat itulah seorang dokter Frank tampil. Ia bertanya kepada sang pangeran, apakah ia memilih mati dengan dua kaki, atau hidup dengan satu kaki. Jawaban sang pangeran jelas. Sang dokter pun membaringkan kaki pangeran itu di atas sebuah balok, sementara seseorang yang berotot kuat mencoba memotong kaki yang terkena bisul. Pukulan pertama gagal memotong tungkai kaki. Pada pukulan kedua, bukan saja tungkai kaki yang terpotong, malah sumsum tulang tungkai itu berhamburan keluar. Pada saat yang bersamaan, sang pangeran meninggal

Adapun pengobatan yang diberikan kepada perempuan lebih mengerikan lagi. Dokter Frank mengatakan bahwa iblis sudah merasuki tubuh perempuan itu dan menguasainya. Karenanya perempuan itu harus digunduli rambutnya. Resepnya pun dijalankan dan diet bawang putih dan mrica dilakukan. Hasilnya serangan penyakit itu meningkat. Dokter frank beragumentasi bahwa kini iblis sudah merasuk kepala perempuan itu. Ia kemudian membuat irisan yang membelah kepala perempuan. Mengelupas kulitnya hingga tengkoraknya menyeruak. Dan menggosok-gosokan garam di dalamnya. Nyawa perempuan itu pun langsung melayang. Saat itulah dokter Islam itu bertanya kepada orang-orang yang berkerumun, apakah ada yang bisa ia bantu. Tatkala mendapatkan jawaban, tidak ia lalu pulang.(Montgomery Watt, 1995: 96)

Laju Pengetahuan Dunia Islam

Sementara itu, tatkala bangsa eropa mengalami masa-masa suram peradaban, dunia Islam justru memulai menyalakan Lentera Peradabannya. Spirit Iqra yang termaktub dalam al-Qur’an betul-betul menghujam dalam dada umat Islam. Dari spirit itulah tumbuh mekar perasaan cinta yang mendalam atas atas pengetahuan. Orang-orang tergerak menggali sedalam-dalamnya khasanah pengetahuan yang terserak di jagad raya, pengetahuan tentang Allah, pengetahuan tentang manusia, juga pengetahuan tentang alam raya.

Tak segan-segan mereka mengambil pengetahuan darimana datangnya untuk kemanfaatan, melengkapinya dengan beberapa tambahan dan melakukan penyempurnaan. Pada masa-masa itulah, lahir intletual-intlektual kebangaan. Raksasa pengetahuan yang memiliki andil besar dalam memantik terjadinya Revolusi Science

Dalam bidang kimia mashurlah Jabir ibn Hayan sebagai bapak dari ilmu kimia dan karya-karyanya dianggap sama penting dengan karya-karya Priestly dan Lavoisier. Di awal abad ke delapan, ia mengemukakan konsep teoritis yang mampu membuat takjub pemikiran-pemikiran ahli kimia modern.

Jabir ibn Hayan menyatakan bahwa semua zat diuraikan menjadi partikel dasar sederhana yang terdiri dari arus yang menyerupai kilat dan api yang merupakan zat terkecil yang tidak dapat dibagi lagi. Pernyataan ini sangat dekat dengan pengetahuan modern kita tentang atom yang mengandung tenaga listrik. Jabir menemukan sembilan belas elemen dengan berat yang spesifik dan beliau juga orang pertama yang menyuling cuka menjadi asam dalam bentuk padat. Sampai dengan hari ini, lebih dari lima ratus buku dan essainya dapat dijumpai sebagai koleksi berada di Paris, Perancis dan Berlin, Jerman. (Casim Igram, 2010: 2012)

Di Bidang matematika, Al-Khawarismi dikenal sebagai ahli matematika pertama dan paling berpengaruh pada zaman pertengahan. Karyanya kitab al-Jabr wal Muqabbal merupakan karya berbahasa arab tertua mengenai al Jabar. Di dalamnya, Al-Khawarismi mencoba memberikan satu teori sebagai solusi atas semua tipe rumus linier maupun kuadrat. (Espositi, 2004, 48)

Di tangan al-Khawarizmi lah, Aljabar untuk pertama kalinya dipisahkan dari ilmu geometri. Menggunakan symbol India untuk angka nol, al-Khawarizmi mengembangkan konsep modern mengenai angka nol yang tanpanya, masyarakat yang terbiasa dengan system terkomputerisasi masa kini tidak mungkin dapat beroperasi.

Di Bidang astronomi. Nama Albatani begitu bersinar di abad pertengahan. Ia menyusun tabel-tabel astronomi zij yang berisi observasi yang dilakukannya sendiri terdapat dua planet bersinar (matahari dan bulan) dan mengoreksi teori-teori pergerakan matahari bulan yang dulu pernah ditulis Ptolomeus dalam almagest.

Karyanya sabean tables atau al Jiz as Sabi diterjemah dalam bahasa latin oleh plato of Trivoli, pada abad ke dua belas dengan judul opus astronomicus. Diamana penulisnya disebut albategnius. Buku ini merupakan buku terlengkap mengenai astronomi arab di jaman itu yang diterjemah di eropa.

Buku “Sabean Tables” digunakan oleh Copernicus ketika membahas orbit mercurius venus. Copernicus juga mengacu pada buku lainnya, dimana yang paling terkenal adalah pengukurannya atas tahun sideris yang dibandungkan dengan hasil-hasil pengukurannya sendiri, juga angka-angka yang ditemukan Ptolomeus dan alah satunya dikaitkan dengan Tsabit Ibnu Qura. (Jhon Freeley, 2011:129)

Al-Biruni adalah orang pertama yang menyimpulkan adanya pergerakan titik matahari yang terjauh dari bumi. Ia menjelaskan bahwa perbedaan antara malam dan siang disebabkan oleh perputaran bumi pada dirinya dan bukan karena perputaran matahari. Ini merupakan cara pandang baru 500 tahun mendahului astronom barat seperti Copernicus maupun Galileo. (Gharib Jaudah, 2007: 258) Lebih jauh lagi, klaimnya bahwa seluruh benda di bumi tertarik pada pusat bumi tidaklah kurang dari hukum gravitasi Newton pertama kali. Ribuan buku beredisi adalah sumbangsihnya.

Dalam hal Tehnologi, pada sekitar tahun 800-an di Andalusia. Ibn Firnas telah merancang pembuatan alat untuk terbang mirip dengan rekayasa yang dibuat Roger Bacon (w 1292) yang belakangan diperkenalkan oleh Leonardo da Vinci (w. 1519 M).(Syamsuddin Arif, 2011: 231)

Di bidang medis, mashurlah Al-Razi sebagai ahli fisika medis terkemuka dalam mengkombinasikan fisika dengan kesehatan. Dalam permasalahan klinis, dia dianggap tidak tertandingi, dalam permasalahan kimia, dia menggolongkan elemen-elemennya, khususnya garam dan logam. Dia adalah seorang ahli kimia sejati, menghilangkan batu berharga dan membangun materi dari serangkaian persenyawaan reaktif. Dia adalah penemu Iatrochemistry(cabang dari ilmu kimia dan kedokteran yang bertujuan menyediakan obat untuk penyakit-red) danmenyajikannya sebagai awal bagi para ahli obat di zaman Renaissance. Dia adalah yang pertama dalam sejarah yang menggunakan air raksa sebagai sebuah obat terapi.

Karyanya yang berjudul al-Hawi, dikenal dalam terjemahan latin dengan nama Constinens, yaitu buku terpanjang berbahasa arab yang msih ada mengenai kedokteran, terdiri atas dua puluh lima volume. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa latin di bawah pemerintahan raja Charles of Anjou oleh seorang dokter yahudi bernama faraj Ibnu Samleem pada tahun 1279. terjemahannya dicetak lima kali, antara tahun 1488 dan 1542.

Esai yang ditulis ar–Razi tentang cacar air dan campak, yang dikenal dalam bahasa latin De peste, diterjemah ke dalam bahasa inggris dan bahasa baratlainya. Dan dipublikasikan dalam empat puluh edisi selama rentan waktu antara abad ke lima belas hingga sembilan belas. (Jhon Freeley, 2011: 112)

ibnu Sina maestro di bidang kedokteran. Ia merupakan orang yang pertamakali menemukan cara pengobatan bagi orang sakit dengan cara menyuntikkan obat ke bawah kulit. (Gharib Jaudah, 2007: 280). Qanun fi at Thib yang merupakan buah karyanya di bidang kedokteran telah menjadi rujukan di hampir semua universitas terkemuka di eropa selama beberapa dekade. Bahkan sampai tahun 1909 buku tersebut masih dipelajari di Universitas Brussel.

Osler, sebagai mana dikutip Raghib as Sirjani, menyatakan, Ibnu Sina telah memberi jalan kepada ilmuan Barat untuk melakukan perombakan ilmiah di Bidang ilmu Kedokteran yang secara nyata dimulai pada abad tiga belas dan mengalami fase puncaknya pada abad ke tujuh belas. (As-Sirjani, 2009: 783).

Di bidang filsafat, pikiran-pikiran para filusuf muslim memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan pola fikir eropa. Bisa dikatakan pemikiran-pemikiran filusuf muslimlah yang menjadi pemantik atas bangkitnya renaissance dunia eropa.

Pergerakan humanisme dalam zaman Renaissance mendapat dorongan yang kuat sekali dari humanisme Islam. Dalam pidatonya “Oratio De Hominis Dignitate”, yaitu pidato tentang martabat manusia. Pico Della Mirandolla, salah seorang pemikir pembuka gerbang pencerahan berkata, bahwa ia membaca dalam buku arab tak ada yang lain didunia ini yang lebih mengaggumkan dari manusia.

Bagi eropa karya intlektual muslim merupakan alat untuk kembali ke jalan ilmu. Al kindi memusatkan perhatian pada ilmu alam, al Farabi dikenal dengan usahanya tentang logika Aristoteles, ibnu Sina menyebarkan ilmu kedokteran, etik stoa dan terutama sekali ibnu Rusyd menerjemahkan dan memberi komentar atas aristoteles. Universitas di Napoli, Bologna dan padua menjadi markas besar intlektyal barut penganut averoisme. Intlektual besar skolastik semacam Urbanus Bologna, Paul Venesia, Dan Cajetanus Thienis mempertahankan otoritas Averoisme

Begitu pula dengan ibnu Tufail, karyanya Hayy bin Yaqdyan yang diterjemah oleh Eduard Pocock ke dalam bahasa latin pada tahun 1671 dengan judul self thaught philospher : Philosophus autodidactus. Lalu pada tahun 1672 diterjemah ke dalam bahasa belanda, pada tahun 1674 ke dalam bahasa inggris, 1676 ke dalama bahasa jerman. Buku itu memiliki pengaruh yang dalam atas beberapa aliran keagamaan kristen di tanah inggris, terutama mazhab Quakers. (Ali Sjahbana, 2007: 27)

Diantara begitu banyak para filusuf muslim, Ibnu Rusyd bisa dibilang paling banyak memiliki pengikut. Bahkan di eropa waktu itu marak para filusuf yang terang-terang menjadi pengusung gagasan ibnu Rusyd, yang dikenal dengan pengsusung aliran averroes sebagai madzhab filsafatnya.

Musa ibnu Maimun, filusuf Yahudi yang terbesar dan lebih dikenal sebagai Maimonides (1135-1204 M) merupakan salah satu filosof yang masuk dalam kelompok orang-orang yang bertanggung jawab atas berdirinya, “Aliran Averroes” sementara itu, tokoh lainnya, Samuel Tibbon (w 1283 M),bertugas sebagain besar karya-karya ibnu Rusdy ke dalam bahasa Ibrani.

Banyak diantara ilmuan kristen yang menyandarkan lebih banyak kepercayaan mereka kepada Ibnu Rusyd ketimbang kepada Aristoteles. Di saat Albertus Magnus (1206-1280 M) dari Bollstaedt, menumpuk kepercayan terhadap al Farabi dan ibnu Sina saat memandang Aristoteles, muridnya, Thomas Aquino (1225-1274 M) justru semakin lama semakin banyak berlindung kepada Ibnu Rusyd mengenai berbagai persoalan filsafat dan kepada Imam Al-Ghazali mengenai berbagai persoalan Agama.

Terjemahan tentang buku-buku tentang ilmu Kedokteran karangan ibnu Sina dan Ibnu Rusdy diterbitkan di Eropa sampai pada abad ke 17 (Budi Yuwono, 2005: 25). Elia del Medigo (1490) dan Jacob Mantinus (1549) menerjemahkan karangan Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

Perpindahan Ilmu Pengetahuan dari Dunia Islam Ke Eropa

Memasuki abad ke sepuluh, persingungan dengan dunia Islam menyadarkan bangsa eropa akan ketertinggalannya itu, mulailah mereka menenggelamkan diri dalam lautan ilmu, usaha pertama tentu saja, menyambung rantai pengetahuan mereka yang terputus, berguru kepada para intlektual muslim melalui karya-karya mereka. Maraklah upaya penerjemahan karya-karya intlektual muslim.

Sejarah mencatat, nama besar Gerbert dari Aurillac dari Perancis, yang juga dikenal sebagai Paus Sylvester II (999-1003) menjadi orang yang pertama mengawali tradisi penerjemahan tersebut. Ia merupakan intlektual barat yang kenyang dengan tradisi keilmuan dunia Islam. Tiga tahun ia belajar di Toledo. Ia juga pernah bersekolah di Catalonia Spanyol, selain juga melalangbuana Timur Tengah. Di barat waktu itu, namanya begitu bersinar, keilmuannya begitu menonjol. Bahkan karenanya, ia sempat naik tahta Paus. Ia adalah orang Perancis pertama yang menjadi Paus. Hingga akhirnya, ia dicap gereja sebagai tukang sihir.

Selain Paus sylvester, nama cukup populer sebagai pelopor penerjemahan periode awal adalah Constantinus Aphricanus, ia sangat berjasa memboyong buku-buku ilmiah dari wilayah islam ke eropa yang kemudian ia terjemah sendiri. Buku-buku yang ia terjemahkan antaralain: liber regius karya Ali ibn Abbas (w 994 M) saat ini naskahnya masih tersimpan di Basel. Lalu kitab kedokteran Abu bakr Ar-razi yang ia terjemahkan menjadi abubecri filli Zachariae Rhasis Divisionum Liber. (Syamsuddin Arif, 2011: 235)

Ada pula, seorang Yahudi bernama Donollo, yang pernah ditahan oleh orang Islam pada masa perang salib menulis sejumlah risalah kedokteran untuk sekolah-sekolah di Barat dalam bahasa Ibrani. Dimana-mana karya-karya tersebut sudah dipastikan berasal dari sumber-sumber Islam.

Di Ripoll, di kaki gunung Pirenia, tempat kaum Benediktin, pada abad kesepuluh menjadi tempat bersemainya tradisi penerjemahan orang eropa atas karya intletual kaum muslimin. Satu abad kemudian, terjemahan-terjemahan yang ditemui di Ripoll tersebar dengan cepat ke seluruh Eropa.

Di perpustakaan vatican di Roma, di Bibliotheque Nationale di Paris dan di British musium London terdapat sejumlah naskah terjemahan dari abad ke sebelas. Terkenal sekali Pedro al Fonso, seorang Yunani yang masuk kristen menerjemahkan karangan-karangan astronomi, teologi dan kedokteran.

Tahun 1085, tatkala orang kristen menduduki Toledo, sejumlah orang Islam berbahasa arab masih banyak yang tetap tinggal di sana. Raimundo, Uskup besar Toledo masa itu menyadari bahwa situasi ini memberikan peluang besar bagi bangsa eropa untuk mempelajari ilmu-ilmu dari Islam. Ia pun mendorong para sarjana barat untuk berkunjung ke Toledo dan mendorong upaya penerjemahan atas karya-karya besar Islam ke dalam bahasa latin.

Maka bermunculah penerjemah-penerjemah handal semacam Ibrahim ibnu Daud, orang Israil (1180 M), Herman, Seorang pendeta dari Jerman (1272 M). Gerard de Cremona (1187 M), orang Italia yang berminat pada pesona penerjemahan. Gerard dari Cremona, seorang sarjana dari Itali datang ke Toledo berguru pengetahuan dan sepanjang hidupnya melakukan penerjemahan karya-karya Islam sampai ia meninggal tahun 1187. Ia berhasil menerjemahkan 71 buah buku berbahasa arab. Aneka bidang ilmu telah diterjemahkannya, seperti matematika, ekonomi, geography, dan ilmu kedokteran. (Abdullah Salim, 1999: 25)

Diantara penerjemah Toledo yang paling mashur adalah Jiraid al-Karimuni yang dijuluki ath-Tolitoli. Ia datang ke Toledo dari Italia tahun 1150 M. Ia telah berhasil menerjemah seratus buku karya intlektual muslim. Diantaranya ada dua puluh satu buku kedokteran. Seperti al-Manshuri karya ar-Razi dan “al-Qanun fi Thib” karya Ibnu Sina. (As-Sirjani, 2009: 771)

Ketika orang-orang norman menguasai Sicilia sejak tahun 1060 mulailah tumbuh kebudayaan Kristen-Islam. Hal ini dikarenakan Roger I adalah orang kristen, meskipun kurang terpelajar, banyak ilmuan Arab yang dilindunginya dari ahli-ahli filsafat, astrologi sampai ke tabib. Islam di Palermo lebih cenderung ke gaya Timur daripada Barat. Meskipun kerajaannya beragama kristen, tapi jabatan tinggi dikerajaan dipercayakan kepada orang-orang Islam.

Ketika Roger II (1130-1154) berkuasa, ia senang berpakaian ala orang Islam. Pakaian yang dihiasi dengan huruf-huruf Arab. Pada masanya, Al-Idrisi adalah ilmuan muslim yang berjasa di kerajaan, ia telah menyumbangkan karyanya sebuah globe dari perak dan berbentuk timbul. I juga menyusun kitab nuzhah al-musytaq fi ikhtiraq al-afaq yang ia hadiahkan kepada raja Roger II. Di dalam kitab tersebut ia jelaskan peta yang telah ia buat itu(As-Sirjani, 2009: 774)

Pengganti Roger II yaitu William mengundang para ilmuan muslim ke Istananya. Raja ini juga bisa membaca dan menulis dalam bahasa Arab. Sementara raja lain dalam keturunan mereka, Frederick menaruh minat pada kegiatan penerjemahan karya intlektual muslim. Akibatnya, ia dituduh condong terhadap muslim. Ketika terjadi perang salib, ia mengadakan perjanjian perdamaiaan dengan penguasa muslim. Ia pun dikucilkan paus

Pada abad ketiga belas, San Fernando yang merebut kota Cordova dan Sevilla menganjurkan menerjemahkan bahasa arab ke bahasa Castilla. Anaknya Alfonso X, raja Castella (1252-1284) yang terkenal dengan sebutan Al-Fonso de Sabio, meneruskan usaha ayahnya, ia memerintahkan ilmuan muslim yang ada di negerinya untuk mengalih bahasakan karya-karya Islam yang penting ke dalam bahasa Spanyol, Catalonia atau Latin. (Saefuddin Zuhri, 2003: 67). Diantara yang diterjemahkan adalah kitab “Kalilah wa Dimnah”

Di Palermon, Ibu Kota Sicilia, di sana timbul pula gerakan penerjemahan yang subur pada abad ke -13 di bawah perlindungan Frederick II. Raja ini mengumpulkan penerjemah terkemuka dan menunjuk Michael Scott (1235 M) sebagai ketuanya untuk menjalankan proyek raksasa penerjemahan karya terbaik penulis Islam, diantaranya Ibnu Rusyd dan sebuah karya ibnu Sina mengenai sejarah alam. Sang kaisar lalu menyebarkan hasil penerjemahan itu ke berbagai universitas Eropa.

Raja Napoli Charles II memiliki perhatian di bidang buku-buku kedokteran arab ke dalam bahasa latin. Ia mendirikan lembaga yang mengumpulkan para penerjemah yang benar-benar ahli, seperti Farj bin Salim dan Musa dari Salerno. Mereka telah berhasil menerjemahkan “al-hawi” karya ar-Razi dan taqwil al-Abdan karya Ibnu Jazlah. (As-Sirjani, 2009: 775)

Adelarb Bath hidup antara 1080-1150 M, orang Inggris yang menghabiskan beberapa lama di Sisilia, sadar betul akan perkembangan baru dalam prestasi kesarjanaan ilmuan muslim. Ia menerjemahkan karya-karya astronomi al-Khawarizmi dan karya Eucleides yang berjudul element.(Montgomery Watt, 1995: 91) Antara tahun 1100 m hingga 1128, Ohilard yang berkebangsaan inggris berkeliling ke Andalusia dan Mesir. Ia menerjemahkan buku al-Arkan karya Euclides yang tidak diketahui oleh orang eropa. Chatillon Bologni menerjemahkan buku Al-Bhasariyat karya al-Hasan al Haitami

Di bagian Barat Saragossa, Hugh dari santalla, menerjemahkan karya-karya ilmiah untuk kepentingan uskup Tarazona. Pada saat yang bersamaan di seberang pegunungan Pyrenee. Terdapat Herman dari dalmatia dan Robert dari Ketton, orang Inggris yang menerjemahkan astronomi dan meterologi. Di pesisir bagaian timur Barcelona, seorang Italia bernama Plato dari Tivoli bekerjasama dengan Abraham Bar Hiyya, menerjemahkan dalam bidang geometri dan astronomi.

Demikian, dari usaha penerjemahan-penerjemahan tersebut; telah membuka cakrawala baru ke negara-negara Barat. Terjemahan ini berlangsung sampai ke abad ke-12, 13 dan abad ke -14 untuk selanjutnya, fase perkembangan Intlektual Barat terus menerus bergerak maju paska interaksi mereka dengan peradaban Islam. Bermula renaissance pada abad ke-14, reformasi pada abad ke-15, rasionalisasi abad ke-17 dan berakhir pada pencerahan pada abad ke-18

  DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Salim, 1999, Sumbangsih Andalusia kepada Dunia Barat, Unissula Press, Semarang

Budi Yuwono, 2005, Ilmuan Islam Pelopor Sains Modern, Pustaka Qalam, Jakarta.

Casim Igram, 2010, Root of Science, dalam On Islamic Civilazation, Unissula, Semarang.

Gustave Lebon, 2003, The World of Islamic Civilization, UMM-Press, Malang.

Jhon Freeley, 2011, Cahaya dari Timur, Elexmedia komputindo, Jakarta.

Jhon L Espositi (ed), 2004, Sains-sains Islam,Inisiasi Press, Jakarta.

Muhammad Gharib Jaudah, 2007, 147 Ilmuan Terkemuka dalam Sejarah Islam, Pustaka Kautsar, Jakarta.

Mujtaba Musawi Lari, 2010, Islam Spirit Sepanjang Jaman, al Huda, Jakarta.

Pervey Hoodbhoy, 2007, Islam & Sains, Penerbit Pustaka, Bandung.

Raghib As-Sirjani, 2009,Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, Pustaka al-Kautsar, Jakarta.

Saefuddin Zuhri, 2003, Sejarah Peradaban Islam, FAI – Universitas Muhammadiyyah Surakarta.

Sultan Takdir Ali Sjahbana, 2007, Sumbangan Islam kepada kebudayaan Dunia, dalam buku, Sains dan Islam; Wacana, Dilema dan Harapan, Penerbit Nuansa, Bandung.

Syamsuddin Arif, 2011, Transmigrasi ilmu; dari Dunia islam ke Eropa, dalam On islamic Civilization, Unissula Press, Semarang

W. Montgomery Watt, 1995, Islam dan Peradaban Dunia, Gramedia, Jakarta.

You may also like...

2 Responses

  1. argo victoria says:

    Ayooo…..semangattttt