Napak Tilas Suksesi Dakwah Kultural Raden Ja’Far Shadiq Kudus

NAPAK TILAS SUKSESI DAKWAH KULTURAL

RADEN JA’FAR SHODIQ KUDUS

Oleh: Choeroni, M. Ag

 

ABSTRAK

Perkataan wali berasal dari bahasa Arab “Wala atau Waliya” yang berarti qaraba yaitu dekat, yang berperan melanjutkan misi kenabian. Dalam Al-Qur’an istilah ini dipakai dengan pengertian kerabat, teman atau pelindung. Al-Qur’an menjelaskan: “Allah pelindung (waliyu) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung (auliya) mereka ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. al-Baqarah: 257). Dalam mengemban peran melanjutkan misi dari kenabian tersebut, para wali yang lebih akrab disebut walisongo selalu mengajak kepada Islam dan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah, dakwah yang digunakan Walisongo dalam merealisasikan misinya adalah penerapan metode yang dikembangkan para sufi Sunni dalam menanamkan ajaran Islam melalui keteladanan yang baik. Kendati demikian, metode dakwah yang dilakukan para wali berbeda-beda. Terutama metode yang dilakukan Sunan Kudus tampak berbeda dengan para wali yang lain, dimana Sunan Kudus menggunakan cara dengan memanfaatkan symbol-symbol tradisi dan kepercayaan mereka, bukti dari metode dakwah tersebut masih terlihat sampai sekarang yaitu bentuk dan gaya bangunan masjid al-Aqsha, menara, gerbang, dan bentuk pancuran (tempat mengambil air wudhu) yang sebetulnya adalah lambang delapan jalan Budha, yang masing-masing pancuran diberi arca kepala Kebo Gumarang di atasnya, hal tersebut mengisyaratkan seperti ajaran Buddha yakni Asta Sanghika Marga.

 

 

 

 

 

  1. Geneologi Raden Ja’far Shodiq (Sunan Kudus). Raden Ja’far Shadiq, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, adalah putera dari Raden Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipang Panolan (ada yang mengatakan letaknya disebelah utara kota blora), Sunan Ngudung adalah senopati Demak yang gugur dalam pertempuran melawan Adipati Terung dari Majapahit (setelah berdamai dengan Demak, Adipati terung masuk Islam dan bergelar Raden Husain, beliau akhirnya diketahui adalah kakak dari Raden Fatah). Dalam urutan nasabnya Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad SAW melalui garis silsilah Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah. (Faroji;2011;30). Dalam meneruskan keturunannya Sunan Kudus menikah dengan puteri dari Raden Maqdum Ibrahim atau Sunan Bonang dari Tuban yang bernama Dewi Rukhil, dari pernikahan ini Sunan Kudus dianugerahi seorang putera yang bernama Amir Hasan. Selain itu, sunan Kudus juga menikah dengan puteri dari pangeran Pecat Tandaterung dari Majapahit yang melahirkan delapan orang putera yaitu; 1. Nyi Ageng Pambayun, 2. Panembahan Palembang, 3. Panembahan Mekaos Honggokusumo, 4. Panembahan Qodhi, 5. Panembahan Karimun, 6. Panembahan Joko, 7. Ratu pakojo, 8. Ratu Prodobinabar, yang akhirnya menikah dengan panglima perangnya yang bernama pangeran poncowati, dari putra puterinya tersebut yang sekarang terdeteksi hanya empat yaitu; 1. Panembahan Palembang, 2. Panembahan Joko, 3. Pangeran Poncowati, dan 4, Panembahan Mekaos Honggokusumo. (Nur Sa’id, 2010; 31)

 

  1. Raden Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) di mata para wali yang lain.

Di kalangan para wali Sunan Kudus dikenal sebagai al’Alim yaitu seorang wali yang memiliki pengetahuan yang luas, meliputi ilmu Fikih, Ushul Fikih, Tafsir, dan Mantiq, karena kedalaman ilmu yang dimiliki tersebut Sunan Kudus disebut sebagai Guru Akbar dengan predikat Waliyyul ‘Ilmi, karena kealimannya tersebut banyak murid yang berdatangan dari berbagai daerah untuk berguru kepadanya, mereka berikutnya adalah sebagai kader dan sekaligus murid militan Sunan Kudus. Diantara mereka bahkan ada yang mengabdi dan ikut dalam perjuangannya sampai meninggal dunia, seperti; kyai Daulat, Kyai Mijil, yang makamnya berdekatan dengan makam Sunan Kudus.

Sebagai sosok ilmuan, dan juga sebagai pangembanan dari visi walisongo yang memandang bahwa mendidik adalah tugas dan panggilan agama, mendidik anak didik dan santri sama dengan mendidik anak kandung sendiri. Dengan demikian, konsep yang dibangun oleh Sunan Kudus dalam mendidik santrinya adalah pendidikan yang dijiwai oleh ketulusan dan keikhlasan yang tinggi serta berorientasi pada transformasi diri yang berpihak pada nilai-nilai Islam, yang memiliki visi hidup yang benar dan terarah berdasarkan Islam, atau dalam kata lain menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya (way of life). (Nur Sa’id, 2010; 37-38)

Selain sebagai sosok ilmuan, Sunan Kudus juga dikenal sebagai seorang saudagar yang ulet, hal ini dapat kita pahami bahwa karena dalam menjalankan misi dakwahnya tidak lepas dari jaringan lokal ataupun internasional. Maka dapat dimengerti, mengapa Islam mudah berkembang di daerah pesisir, termasuk di Kudus?, salah satu faktornya adalah kesamaan jiwa sebagai saudagar yang memiliki cirri keterbukaan, egaliter, dan mobilitas yang tinggi sehingga mudah menerima perubahan. Maka sejak abad 15 para saudagar muslim telah mencapai kemajuan baik dalam urusan bisnis ataupun dakwahnya. Hal ini juga tidak lepas dari kepeloporan Sunan Kudus terutama peranannya di daerah Kudus, Demak dan Jepara, sehingga sekarang kita kenal Kudus sebagai kota Industrinya, Jepara dikenal dengan produk ukirnya dan Demak sebagai kota penghasil ikan yang cukup besar. (Nur Sa’id, 2010; 39)

Dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus lebih dekat dengan dengan cara yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga yaitu melalui cara mendekatkan diri dengan rakyat dan tradisinya dengan mengisi nuansa islami, bahkan beliau mempunyai kelebihan dibandingkan dengan sunan Kalijaga, yaitu kehalusan sifat dan kehati-hatian beliau, karena kelebihannya tersebut, maka para walisongo ketika itu memintanya untuk berdakwah di daerah Kudus yang masyarakatnya masih berpegang teguh dengan keyakinan agama yang dianutnya yaitu Hindu-Buddha.

Para da’i pada umumnya dan juga para walisongo yaitu dewan wali yang berjumlah sembilan orang, begitu salah seorang anggota walisongo meninggal, maka kedudukannya digantikan oleh wali yang lain sehingga jumlahnya tetap Sembilan, periode walisongo yang pertama adalah 1. Maulana Malik Ibrahim dari Turki berdakwah di jawa bagian timur wafat di Gresik, 2. Maulana Ishak dari Samarkhan yang ahli dalam ilmu pengobatan, 3. Maulana Ahmad Jumadl Kubra dari Mesir yang berdakwah keliling makamnya di Troloyo, trowulan, mojokerto Jawa Timur, 4. Maulana Ahmad Al Maghribi berasal dari Maghribi (Maroko), beliau berdakwah keliling, 5. Maulana malik Irsail berasal dari Turki, makamnya di Gunung Santri, Cilegon, antara serang-merak, 6. Maulana Muhammad Ali Akbar berasal dari Persia (Iran), 7. Maulana hasanuddin dari Palestina berdakwah keliling, makamnya di samping Masjid Banten lama, 8. Maulana Aliyuddin berasal dari Palestina berdakwah keliling, makamnya di samping Masjid Banten lama, 9. Syaikh Subakir berasal dari Persia. Sedangkan walisongo yang terkenal sebagaimana yang kita ketahui sekarang adalah walisongo periode kedua. (Samsul Munir, 2010; 315). Pada dasarnya metode dakwah walisongo memiliki prinsip yang sama yaitu dengan “bilhikmah” sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an “serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl:125). Tetapi Sunan Kudus dengan brilian mengaplikasikan kata al-Hikmah tersebut dalam dakwahnya, sehingga masyarakat yang yang sebelumnya menganut agama Hindu berangsur-angsur memeluk Islam dengan cara simpatik, damai dan jauh dari kekerasan. (Nur Sa’id, 2010; 67). Strategi Sunan Kudus juga didapat dari hasanah budaya China melalui gurunya yang berasal dari daratan China yaitu Kyai Telingsing atau akrap disapa dengan The Ling Shing, seorang ulama dari negeri China yang datang ke jawa Dwipa bersama Jendral Cheng Hoo. Selain berguru masalah ilmu agama Sunan Kudus juga berguru ilmu ukir kepadanya. (Wawan Susatya2009; 307)

 

  1. Dakwah Kultural Raden Ja’far Shodiq (Sunan Kudus)

Secara umum, strategi dakwah Sunan Kudus sama dengan Sunan kalijaga, Sunan Bonang dan para sunan yang lain; yaitu. 1. Membiarkan dulu kepercayaan lama yang sulit diubah, mereka sepakat untuk tidak mempergunakan kekerasan dalam berdakwah, 2. Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan mudah dirubah maka segera dihilangkan, 3. Mempengaruhi sedikit demi sedikit dan menerapkan prinsip Tutwuri Handayani artinya, mengikuti dari belakang kelakuan dan adat istiadat masyarakat sambil mengisi dengan ajaran agama Islam, 4. Menghindari konfrontasi secara langsung atau menghindari jalan kekerasan dalam menyiarkan agama Islam. Dengan prinsip mengambil ikan tetapi tidak mengeruhkan airnya, 5. Pada akhirnya, boleh saja merubah adat dan kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi dengan prinsip tidak menghalau masyarakat dari ummat Islam. (Rahimsyah; 2008; 58). Selengkapnya, model dakwah Sunan Kudus yang mengedepankan pendekatan cultural dapat dicermati dalam fenomena sebagai berikut.

  1. Menciptakan Ruang Budaya (Cultural Sphere)

Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam membina masyarakat Madinah yaitu membangun masjid Quba’, maka hal ini juga dilakukan oleh Sunan Kudus dalam mengembangkan dakwahnya di Kudus. Beliau mendirikan sebuah masjid yang dikenal dengan Masjid Nganguk Wali, setelah dakwahnya semakin mapan maka Sunan Kudus mendirikan masjid besar yang diberi nama Masjid al-Aqsha dilengkapi dengan menara yang indah. Keberadaan masjid al-Aqsha dan menera Kudus yang berdiri kokoh, tegak dan menjulang tinggi tersebut sebagai penanda bahwa bangunan kepercayaan lama yaitu Hindu akan segera ditinggalkan dan beralih kepada kepercayaan baru yaitu Islam. Namun dalam suksesinya, tidak serta merta menghilangkan symbol-symbol kepercayaan lama, hal ini dibuktikan dengan dalam konstruksi bangunan masjid dan menara yang tetap memperhatikan dan menghargai pola dan bentuk bangunan yang sebelumnya telah ada, yaitu mirip dengan pure sebagai tempat peribadatan ummat Budha. (Nur Sa’id, 2010; 69)

Kehadiran menara Kudus juga menandakan akan eksistensi Islam di Kudus, sebuah era baru dimana Islam mulai diterima di khalayak masyarakat. Disamping itu, Menara Masjid Kudus juga menandai semangat Sunan Kudus untuk memperluas terbentuknya ruang budaya yang islami di daerah lain. Maka kalau sekarang masyarakat Kudus mengenal istilah “masjid wali”, sebenarnya hal itu merupakan petilasan dari Sunan Kudus dalam memperlebar dan memperluas ruang budaya dimana Islam sebagai basis nilai dalam segala gerak dan langkahnya, maka di Kudus akan banyak dijumpai masjid wali seperti; masjid wali Madureksan yang konon menjadi tempat musyawarah para wali di Kudus, masjid wali Jepang dan Hadiwarno di kecamatan Mejobo; Masjid wali Loram, dan masih banyak lagi masjid wali di Kudus sebagai petilasan dakwah Sunan Kudus di daerah tersebut. Sebagaimana di masa Rasulullah SAW, masjid tidak sekedar dijadikan sebagai tempat ritual dan ibadah mahdhah semata, di masjid pula para wali menyusun siasat mengangkat manusia dari kebodohan dan keterpurukan, melaksanakan paguyuban pengajian dan pendidikan serta musyawarah kegiatan lain untuk kemaslahatan Ummat.

Masjid juga menjadi cikal bakal tumbuhnya benih-benih pesantren yang menjadi ruang budaya setelah masjid, dan dari pesantren jaringan wali dan ulama mulai terjalin sangat kuat. Melalui jaringan tersebut, jejak walisongo mulai menapak ke dalam kekuasaan sehingga terwujudlah kerajaan Islam. Keadaan seperti ini memperlancar dakwah Islam yang sebelumnya hanya mengandalkan pendekatan cultural, mulai fase baru yaitu pendekatan structural, seperti keberadaan kesultanan Demak, kesultanan Cirebon. Walaupun demikian pendekatan cultural tetap dipertahankan. (Nur Sa’id, 2010; 71)

  1. Akulturasi

Dalam berdakwah di masyarakat, Sunan Kudus menggunakan cara dengan memanfaatkan symbol-symbol tradisi dan kepercayaan mereka, bukti dari metode dakwah tersebut masih terlihat sampai sekarang yaitu bentuk dan gaya bangunan masjid al-Aqsha, menara, gerbang, dan bentuk pancuran (tempat mengambil air wudhu) yang sebetulnya adalah lambang delapan jalan Budha, yang masing-masing pancuran diberi arca kepala Kebo Gumarang di atasnya, hal tersebut mengisyaratkan seperti ajaran Buddha yakni Asta Sanghika Marga (jalan berlipan delapan), yaitu harus memiliki pengetahuan yang benar, mengambil keputusan yang benar, berkata yang benar, hidup dengan cara yang benar, bekerja dengan benar, beribadah dengan benar, menghayati agama dengan benar, dan menjalankannya dengan benar. (Wawan Susatya; 2009; 311).

Diceritakan pula bahwa suatu ketika Sunan Kudus berharap masyarat banyak yang datang ke masjid untuk menerima dakwahnya, cara yang dilakukan Sunan Kudus terbilang aneh yaitu dengan menambatkan seekor sapi miliknya yang diberi nama kebo Gumarang di halaman masjid. Apa yang dilakukan Sunan Kudus mengundang pertanyaan di hati masyarakat Kudus, maka banyak dari mereka yang langsung datang untuk melihat apa yang akan dilakukan Sunan Kudus terhadap Sapi itu. Ketika masyarakat sudah mulai banyak yang datang kemudian Sunan Kudus berpesan kepada mereka untuk tidak menyembelih hewan sapi, beliau berdalih bahwa telah mempunyai kenangan manis dengan seekor sapi. Pada masa kecil dulu, hampir saja mati kehausan, tetapi tiba-tiba ada seekor sapi yang menyusuinya sehingga beliau terselamatkan. Mendengar penjelasan dari Sunan Kudus, masyarakat Kudus mulai tambah kepercayaan kepadanya, bahkan sebagian mereka ada yang menganggap Sunan Kudus adalah titisan Dewa Wisnu yang mengejawentah di muka bumi. Sejak itulah, masyarakat Kudus mulai sering berdatangan ke rumah Sunan Kudus karena rasa penasaran kepadanya.

Kemudian pada saat masyarakat yang datang semakin banyak, maka sunan Kudus mulai menyinggung mengenai kitab Suci al-Qur’an, Sunan Kudus menyampaikan kepada mereka “Ketahuilah bahwa di dalam al-Qur’an, kitab suci ummat Islam ada yang namanya surat al-Baqarah yang artinya sapi betina. Padahal, setiap harinya, saya dan kaum muslimin selalu membacanya. (Wawan Susatya2009; 310), jadi apa yang dilakukan Sunan Kudus adalah untuk menarik hati dan simpatik masyarakatnya, karena beliau tahu bahwa Sapi adalah binatang yang dianggap suci di kalangan ummat Buddha. Dari penjelasan dan cara dakwah yang dilakukan Sunan Kudus tersebut masyarakat Kudus semakin simpatik dan mengikuti dakwah Sunan Kudus. Akhirnya, masyarakat Kudus yang semula beragama mayoritas Hindu-Budha berduyun-duyun mengikuti dakwah Sunan Kudus dan menyatakan diri masuk Islam.

Selain itu dalam berdakwah, Sunan Kudus menyampaikannya dengan cara yang mengikat hati yaitu dengan mengarang cerita-cerita keagamaan, diantara karya beliau yang terkenal adalah Gending maskumambang dan mijil, karena selain seorang yang mendalam ilmu agamanya Sunan Kudus juga dikenal sebagai seorang penyair dan penggubah cerita rakyat yang bervisi ketauhidan. (Fauzi; 2007; 43). Ini adalah bukti nyata bahwa dalam kesuksesan dakwah yang dilakukan Sunan Kudus menggunakan pendekatan tradisi masyarakat setempat dan tidak serta merta menolak tradisi masyarakat tetapi dengan menysipkannya dengan nilai-nilai keislaman. Karena ketawaduan masyarakat Kudus kepada sang sunan, hingga sekarang tidak ada penyembelihan sapi di kota ini, setiap upacara keagamaan ataupun yang lainnya hewan sapi biasanya digantikan dengan seekor kerbau dan binatang halal yang lain. (Fauzi; 2007; 41).

Dalam menyampaikan dakwahnya Sunan Kudus tidak menentang secara frontal adat istiadat para leluhur mereka, tetapi lebih diarahkan ke dalam bentuk yang lebih islami, misalnya acara selamatan, misalnya selametan neloni, mitoni, ataupun adat istiadat setelah adanya orang meninggal, seperti upacara hari ke tiga, ketujuh, ke empat puluh, dll, yang semula kirim sesajen kepada para dewa, oleh Suna Kudus diarahkan dengan niat untuk bersedekah kepada masyarakat, pada kesempatan yang demikian, Sunan Kudus memimpin dengan mengarahkan permohonan secara langsung kepada Allah sekaligus memimpin doanya. (Nur Sa’id, 2010; 311)

 

  1. Pengobatan Penyakit.

Selain seorang ilmuan, Sunan Kudus juga ahli dalam bidang pengobatan; diceritakan bahwa ketika Sunan Kudus menunaikan ibadah haji dan bermukim sementara di sana, kesempatan tersebut digunakan untuk belajar di Baitul Maqdis, ketika beliau di kota tersebut, masyarakat di sana sedang dilanda penyakit dan belum ada seorang tabib yang mampu menemukan obatnya, ketika itu, Sunan Kuduslah yang mampu memberantas penyakit yang melanda penduduk kota Palestina tersebut. Karena jasanya tersebut Sunan Kudus diberi hadiah sebuah kekuasaan wilayah di daerah Palestina, tetapi Sunan Kudus menolaknya karena yang beliau lakukan dengan niat ikhlas karena Allah ta’ala untuk membantu sesamanya dan beliau pun memilih pulang ke pulau Jawa. Sebelum pulang beliau hanya meminta kenang-kenangan sebuah batu yang nantinya dijadikan peringatan pendirian masjid Menara Kudus. (Nur Sa’id, 2010; 77) Setelah pulang dari belajar di Palestina, pada tahun 1549 M, Sunan Kudus membangun sebuah masjid yang diberi nama masjid al-Aqsha atau Manara (Menara Kudus), dari nama masjid inilah asal usul nama kota Kudus, yaitu nama yang diperkenalkan sunan Kudus mengacu pada nama sebuah kota yang berada di Palestina yaitu al-Quds (dalam bahasa Arab) atau Jerussalem (dalam bahasa Yahudi). (Fauzi; 2007; 41). Keahlian dalam bidang pengobatan juga digunakan Sunan Kudus untuk memperkuat sarana dakwahnya dalam menyebarkan Islam di Kudus dan sekitarnya.

Memang dalam penyebaran Islam di Indonesia terutama di Jawa, terdapat legenda yang mengaitkan penyebaran Islam dengan epidemi yang melanda penduduk, tradisi tentang konversi kepada Islam berhubungan dengan kepercayaan bahwa tokoh-tokoh Islam pandai menyembuhkan. Selain itu Islam juga menawarkan keselamatan dari berbagai kekuatan jahat, misalnya orang yang taat dan shaleh akan dilindungi Allah dari setiap arwah dan kekuatan jahat, bahkan mereka akan diberi imbalan berupa surge nanti di akhirat. Demikian juga, orang sengsara akan mendapatkan balasan yang sama apabila mereka beramal shaleh. Hal demikian mengikis pandangan lama yang menyatakan bahwa kehidupan akhirat penuh dengan kemungkinan yang menakutkan, sedangkan Islam memperkenalkan janji surga yang menyenangkan. (Musyrifah, 2010;21). Jadi pengobatan merupakan sarana yang ampuh untuk memberikan simpatik kepada masyarakaÉt akan agama Islam, yang menyebabkan pula mereka berduyun-duyun menyatakan diri untuk memeluk agama Islam.

  1. Modeling (Keteladanan)

Modeling adalah cara orang belajar dengan meniru dan mengamati perilaku orang lain yaitu dengan memilih model sehingga menghasilkan informasi bahwa orang yang bersangkutan secara sistematis meniru pada model yang lebih dominan. Dalam hal ini, Sunan Kudus telah memposisikan diri sebagai sosok pribadi yang tampil sebagai figure teladan, mulai dari kretifitas dalam berkarya, toleransi dalam berbudaya, jaringan dalam berdakwah serta kesetiaanya pada ilmu pengetahuan.

Melalui proses keteladanan tersebut, Sunan Kudus diposisikan sangat terhormat dalam struktur social di Kudus, dan dengan suksesnya keteladanan tersebut maka sunan Kudus menjadi tempat pelarian setiap masyarakat yang sedang ada masalah, baik masalah pribadi, keluarga, social, politik bahkan ekonomi. (Nur Sa’id, 2010; 79)

 

  1. Membangun Networking (Jaringan)

Walisongo merupakan sejumlah pendakwah Islam yang mengutamakan komunikasi dengan sesama. Mereka semacam Dewan wali yang terlembaga yang mana Sunan Kudus ada di dalamnya, sehingga ia merupakan perintis jaringan dakwah Islam yang solid dan terkomunikasikan dengan baik. Maka ketika diantara mereka menghadapi persoalan besar yang tidak mampu diselesaikan secara pribadi, mereka tidak segan-segan melakukan musyawarah bersama untuk menemukan jalan keluar yang terbaik, biasanya musyawarah tersebut dilakukan di masjid Bintoro Demak. Banyak kasus yang sudah diselesaikan dengan cara tersebut diantaranya menyelesaikan kasusnya Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging, dan sebagainya.

Dengan system seperti ini, walisongo berhasil mengembangkan mengembangkan dakwah yang tidak hanya di jawa tetapi juga di seluruh nusantara. Dengan demikian, Sistem dan strategi dakwah walisongo pada umumnya dan Sunan Kudus pada Khususnya merupakan prestasi yang luar biasa dan melampaui kemajuan pada zamannya. (Nur Sa’id, 2010; 81)

  1. Penutup

Pakar etika global yang bernama Hans Kung menegaskan bahwa di era postmodern kebutuhan etis yang dirindukan dalam pranata social yang multicultural adalah: Tidak sekedar kebebasan tetapi juga keadilan, Tidak sekedar kesetaraan tetapi juga pluralitas, Tidak sekedar persaudaraan antar lelaki tetapi juga antar perempuan, Tidak sekedar hidup berdampingan tetapi juga hidup dengan damai, Tidak sekedar produktif tetapi juga peduli terhadap lingkungan, Tidak sekedar toleransi tetapi juga kerjasama antar iman mengatasi masalah kemanusiaan. Ternyata etika global sebagaimana ditawarkan Hans Kung tersebut, sudah diimplementasikan oleh walisongo sejak 5 abad yang lalu ketika menyebarkan Islam di Jawa, terutama Sunan Kudus yang sangat kental dengan aspek akulturasi budaya. Tentu hal ini perlu menjadi bahan renungan bagi umat Islam yang hidup di era sekarang untuk menata kehidupan lintas kultur dan agama yang diwarnai budaya damai dan solidaritas social sebagaimana yang dilakukan oleh para walisongo terutama oleh Sunan Kudus dan walisongo. (Nur Sa’id, 2010; 82)

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amin, Samsul Munir, 2010, Sejarah Peradaban Islam, Amzah, Jakarta.

Faroji, Shohibul, 2011, Ensiklopedi Nasab Imam Al-Husain. Penerbit Walisongo Center.

Fauzi,M, 2007, Kisah Teladan wali Songo, Tera Insani, Jogjakarta.

Rahimsyah, 2008, Kisah Walisongo; Para Penyebar Agama Islam di tanah Jawa, Mulia jaya, Surabaya.

Said, Nur, 2010 Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun karakter Bangsa, Brillian Media Utama, Bandung.

Sunanto, Musyrifah, 2010, Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta

Susatya,Wawan, 2009, Senyum Manis Wali Songo, Diva Press, Jogjakarta.

 

You may also like...