ISLAM MEMBANTAH ISU PLURALISME AGAMA

ISLAM MEMBANTAH ISU PLURALISME AGAMA

Choeroni

Abstrak

Pluralisme agama merupakan faham kemusyrikan yang menyamakan semua agama. Menurut faham ini penyembah berhala itu disamakan dengan penyembah Allah swt. Dalam model kemusyrikan sekarang bukan masalah penyembahannya yang dipentingkan namun pemahamannya ditarik-tarik ke kemusyrikan yang diganti nama dengan pluralisme agama. Padahal telah kita ketahui bahwa kemusyrikan adalah dosa tertinggi yang pelakunya bila tidak bertobat sampai meninggalnya tidak akan masuk surga. Faham pluralisme memandang agama-agama yang ada di dunia ini sebagai hal yang sama benarnya, sejajar, parallel, semua menuju kepada jalan keselamatan, yang membedakan hanyalah teknis saja.

Kaum pluralis tidaklah sekedar mengakui sebuah agama itu sebagai agama, lebih dari itu, meraka beranggapan bahwa semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun porsinya tidak sama, semuanya menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan, walaupun resepnya berbeda, terdapat banyak jalan menuju Tuhan, semuanya bisa digunakan, tidak ada jalan buntu ataupun yang menyesatkan.

Jadi, menurut faham pluralisme, setiap orang tidak dibenarkan mengklaim bahwa agamanya paling otentik, paling valid, paling benar, dan paling sempurna tidak ada yang selamat kecuali agama yang ia anut. Karena orang yang berpandangan demikian adalah salah, ofensif, dan berpandangan sempit. Meskipun sejatinya pandangan ini pun mengajarkan sikap ekslusif. Karena inklusivitas dan inklusivisme yang diusung ternyata juga mengajarkan “ekslusivisme” dalam baju lain: pluralisme.

Untuk mengetahui lebih lanjut sejauh mana bahaya pluralisme ini, dapat dilihat dalam tiga alur berfikir: Pertama, semua tradisi agama besar adalah sama, semua merujuk dan menunjuk sebuah realitas tunggal yang transcendent dan suci. Kedua, semuanya sama-sama menawarkan jalan keselamatan. Dan ketiga, semuanya tidak ada yang final. Artinya, setiap agama harus selalu terbuka untuk dikritisi dan direvisi.

 

 

  1. PENDAHULUAN

Pluralisme Agama (Religious Pluralism) adalah istilah khusus dalam kajian agama-agama, Istilah pluralisme tersebut tidaklah dikenal secara popular masa Islam klasik dan istilah ini dikenal secara popular sejak dua dekade tarakhir abad ke – 20 yaitu adanya fase pembinasaan yang merupakan kebijakan internasional barat yaitu suatu kebijakan yang berpijak pada superior barat untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkan dengan mengesampingkan berbagai hal yang bukan berasal dari barat dalam hal ini Islam adalah tujuan utamanya, dengan memberikan beberapa isu sebagai senjatanya, misalnya intoleransi, anti-demokrasi, fundamentalis, sekretarian dan sebagainya. [1] Sinyalemen tersebut juga disampaikan oleh beberapa ilmuan sosial, khususnya yang berpaham orientalis, yang menyatakan bahwa setelah perang dingin selesai musuh utama Barat adalah Islam, baik Islam sebagai way of life ataupun sebagai gerakan politik. [2]

Sebagai respon terhadap ide pluralisme agama tersebut banyak bermunculan cerdik cendikiawan muslim yang terlarut dalam politis barat itu, hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya ilmiah, tulisan dan kajian ilmiah yang mengupas tema ini, banyaknya artikel, dan beberapa buku[3]; diantara buku yang membedah masalah pluralisme agama adalah al ta’adudiayah fi mujtama’ islami karya Jamal al Banna, The Children of Adam: An Islamic perspective on pluralism, karya Mohamed Fathi Osman, The Islamic Roots of Demokratic Pluralism, karya Abdul Aziz Sachedina, Qur’an, Liberation & Pluralism: An Islamic Perspektive of interreligious Solidarity against oppression karya Farid Essack. [4]

Seakan tidak mau kalah dengan hiruk pikuknya dunia, di Indonesia pun banyak bermunculan para ulama baru dengan idenya yang sangat konyol tersebut, faham pluralisme agama ini terus dikembangkan di Indonesia dengan didukung oleh donor asing seperti International Center for Islam and Pluralism (ICIP) [5] ataupun oleh para sarjana Muslim yang menyebut dirinya pluralis-inklusivis, sebut saja Nurcholis madjid, Abdurrahman Wahid, Dawam Raharjo, Jalaluddin Rahmat, dan lain-lain. Adapun buku yang telah diterbitkan antara lain; Islam dan Pluralisme: Akhlak Qur’an Menyikapi Perbedaan, tulisan Jalaluddin Rahmat, Pluralisme Agama Prespektif al Qur’an desertasi dari Abd. Rahman Marasabessy, Fikih Lintas Agama yang ditulis oleh Tim Paramadiana, Islam Inklusif karya Alwi Syihab, Argumen Pluralisme Agama yang ditulis oleh Abd. Moqsith Ghazali, dll. [6]

Walaupun sudah dinyatakan sebagai suatu faham yang bertentangan dengan Islam oleh Majelis Ulama Indonesia melalui fatwanya tahun 2005, faham pluralism masih tetap dikembangkan oleh para penggemarnya dengan berbagai dalil dan alasan diantaranya adalah untuk meredam konflik antar pemeluk agama-agama. [7] Bahkan wacana faham pluralisme agama menggema lebih besar pasca wafatnya Gus Dur (30 Desember 2009). Dan gelar bapak pluralisme pun langsung disematkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono kepadanya. Lebih dari itu, dia pun diusulkan untuk dijadikan pahlawan nasional Indonesia.[8]

Menurut penulis, kalau pluralisme dimaknai dengan saling menghormati antara pemeluk agama-agama maka tidak perlu dipermasalahkan karena Islam sendiri mengajarkan untuk saling menghormati antara satu sama lainnya, akan tetapi yang dikembangkan adalah pengakuan bahwa semua agama adalah sama, maka inilah yang harus menjadi perhatian karena untuk mengukuhkan faham tersebut dilandasi dengan berbagai argument yang dianggap menguatkannya walaupun banyak kerancauan di dalamnya.

Faham pluralisme agama di Indonesia, memang sangat meracuni para cendekiawan muslim, dengan berbagai cara mereka menyuarakannya. Walaupun telah terjadi berbagai keancuan dasar hukum yang mendasari alur berfikirnya, sebagaimana akan disinggung pada tulisan ini.

 

  1. MASALAH PLURALISME AGAMA

Pluralisme agama itu beda dengan istilah pluralitas, [9] Istilah pluralitas hanya mengenal agama-agama bukan mengakui semua agama itu benar. Pluralisme Agama didasarkan pada satu asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga – karena kerelativannya – maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya lebih benar atau lebih baik dari agama lain; atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.

Pluralisme agama merupakan faham kemusyrikan yang menyamakan semua agama dengan demikian maka penyembah berhala itu disamakan dengan penyembah Allah swt.[10] Namun dalam model kemusyrikan sekarang adalah bukan masalah penyembahannya yang dipentingkan namun pemahamannya ditarik-tarik ke kemusyrikan yang diganti nama dengan pluralisme agama, padahal telah kita ketahui bahwa kemusyrikan adalah dosa tertinggi yang pelakunya bila tidak bertobat sampai meninggalnya tidak akan masuk surga. [11] Faham pluralisme memandang agama-agama yang ada di dunia ini sebagai hal yang sama benarnya, sejajar, parallel, semua menuju kepada jalan keselamatan, yang membedakan hanyalah teknis saja. [12]

Kaum pluralis tidaklah sekedar mengakui sebuah agama itu sebagai agama, lebih dari itu, meraka beranggapan bahwa semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun porsinya tidak sama, semuanya menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan, walaupun resepnya berbeda, terdapat banyak jalan menuju Tuhan, semuanya bisa digunakan, tidak ada jalan buntu ataupun yang menyesatkan. [13]

Menurut hemat penulis, dari keterangan di atas dapat ditarik benang merah bahwa pluralisme agama adalah faham kemusyrikan dan kesesatan yang merupakan propaganda dari orang-orang musyrik untuk menjerumuskan orang-orang beriman terjebur dalam jurang kemusyrikan padahal semua masalah tersebut telah terbantah baik oleh oleh firman Allah ataupun hadis Nabi Muhammad saw.

Jadi, menurut faham pluralisme, setiap orang tidak dibenarkan mengklaim bahwa agamanya paling otentik, paling valid, paling benar, dan paling sempurna tidak ada yang selamat kecuali agama yang ia anut. Karena orang yang berpandangan demikian adalah salah, ofensif, dan berpandangan sempit. Meskipun sejatinya pandangan ini pun mengajarkan sikap ekslusif. Karena inklusivitas dan inklusivisme yang diusung ternyata juga mengajarkan “ekslusivisme” dalam baju lain: pluralisme. [14]

Dari pandangan sebagaimana di atas maka tepat sekali ketika MUI mengeluarkan fatwa “haram” untuk Sepilis (Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme), namun itulah mereka, walaupun dengan jelas telah diharamkan para penggemarnya terus mencari celah untuk mendapatkan pembelaan, Salah seorang pembela Sepilis, umapamanya, mencari justifikasi pandangannya lewat statemen Din Syamsuddin, lalu mengatakan bahwa fatwa MUI tak seimbang. Karena menurutnya, hanya mendasarkan definisi pluralisme pada kamus Oxford. Menurutnya pula, MUI tidak membedakan pengertian pluralisme dalam tataran “teologis” dan “sosiologis”. Padahal antara keduanya sama saja: tidak ada perbedaan yang fundamental dan substansial. Karena keduanya akan berhenti pada stasion yang sama: “relativisme”. Dan muara akhirnya adalah: semua agama sama-sama benarnya, sama validnya, karena mengarah kepada satu Tuhan.[15]

Untuk mengetahui lebih lanjut sejauh mana bahaya pluralisme ini, dapat dilihat dalam tiga alur berfikir: Pertama, semua tradisi agama besar adalah sama, semua merujuk dan menunjuk sebuah realitas tunggal yang transcendet dan suci. Kedua, semuanya sama-sama menawarkan jalan keselamatan. Dan ketiga, semuanya tidak ada yang final. Artinya, setiap agama harus selalu terbuka untuk dikritisi dan direvisi.[16]

  1. ISLAM MEMBANTAH PLURALISME AGAMA

Salah satu ciri khas kaum Liberal adalah terlalu berani menafsirkan ayat-ayat al Qur’an untuk dipaksakan sesuai dengan apa yang ia pikirkan dan inginkan. Sebagaimana yang dilakukan oleh murid kesayangan Nurkhalis Madjid yaitu Budhy munawar Rachman yang Tujuan dari kesemuanya itu adalah satu yaitu terwujudnya gagasan tentang pluralisme agama. Cara-cara seperti ini juga dilakukan oleh para penganut agama lain yaitu Kristen dan Hindu, mereka mengait-kaitkan ayat-ayat al Qur’an agar sesuai dengan apa yang mereka pikirkan yaitu memiliki pemahaman tentang pluralisme agama. [17]

Diantara ayat yang digunakan kaum liberal dalam memantapkan faham pluralisme adalah QS. Al An’am ayat 161.

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٦١)

Artinya: Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah Termasuk orang-orang musyrik“. (QS. Al An’am : 161)

Menurut pandangan Islam agama yang dibawa nabi Muhammad yaitu Islam adalah kelanjutan dari millah Ibrahim yang mengajarkan agama tauhid. Karenanya agama selain Islam yaitu Yahudi dan Nasrani bukanlah agama yang tauhid, mereka tidak mampu menjaga agamanya sebagai agama tauhid. Salah satu sebabnya adalah pengingkaran terhadap kerasulan Muhammad[18], Allah swt berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (٦٧)

Artinya: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus[201] lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran : 67)

Islam sendiri juga telah dengan jelas membantah tentang faham pluralisme, Islam telah meyakinkan dirinya sebagai agama yang mutlak kebenarannya dan akan mendapatkan keselamatan bagi pemeluknya. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa ayat al Qur’an berikut ini.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٩)

Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali Imran : 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٨٥)

Artinya: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٥١)

Artinya: “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An Nur : 51)

 

Sabda Rasulullah saw:

عن ابي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي احد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي ارسلت به إلا كان من اصحاب النار

Artinya: “Diriwayatkan dari Abi Hurairata r.a. dari Rasulullah saw beliau bersabda.: Demi zat yang jiwa Muhammad ada di genggamanNya, tidaklah seseorang ummat ini yang mendengar agama)ku, baik dia itu orang Yahudi atau Nasrani, kemudian ia meninggal dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)

 

  1. Penutup

Pluralitas adalah suatu sunnatullah yang harus terjadi di muka bumi ini, karena dengannya akan terseleksi mana ummat yang tunduk, patuh terhadap agama Islam, yang beramal saleh ataupun yang taleh, alias sesat. Sedangkan pluralisme agama adalah suatu faham pembusukan dan pemusnahan akidah yang diawali dengan kemusyrikan, yang mana seseorang melakukan kemusyrikan berarti dia melakukan dosa besar, tidak akan diampuni dosanya sebelum dia benar-benar bertobat dengan taubatan nashuha. Islam sendiri telah meyakinkan akan bantahannya terhadap faham pluralisme tersebut.

——————————-

[1] Anis Malik Thoha, “Tren Pluralisme Agama, Kelompok Gema Insani, Jakarta, 2005, hlm. 180-181.

[2] Heru Nugroho, Atas Nama Agama, Pustaka Hidayah, Bandung, 1998, hlm 63, lebih lanjut disebutkan bahwa adanya bukti-bukti reaksi particular dan fundamental yang muncul tidak hanya di Timur Tengah tetapi hamper di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia, sebagai contohnya adalah munculnya berbagai kerusuhan social di tanah air, seperti kasus-kasus nipah, jenggawah, situbondo, dan tasikmalaya yang semuanya melibatkan orang Islam.

[3] Ibid hlm 181.

[4] Abd. Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama, Kata Kita, Jakarta, 2009, hlm 23-27

[5] Salah satu lembaga di Indonesia yang aktif sebagai penyebar faham pluralism agama dalam berbagai kesempatan, tokoh lembaga ini mengaku bahwa pluralism agama yang disebarkannya berbeda dengan definisi yang ditetapkan MUI, ICIP termasuk lembaga yang aktif menggarap lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik kalangan Perguruan Tinggi maupun Pesantren. Dr. Adian Husaini, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi, gema Insani, Jakarta, 2009, hlm 135

[6] Ibid hlm 24-27

[7] Dr. Adian Husaini, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi. hlm 117

[8] Diambil dari Islam dan Pluralisme Agama, Qosim Nursheha Dzulhadi, PKU ISID Gontor.

[9] Dalam bahasa agama, pluralitas merupakan sunnatullah, hukum alam yang memang menjadi ketentuan dan kehendak Allah swt. Kitab suci menyebutkan jika seandainya Tuhan menghendaki semua manusia menjadi satu kepercayaan dan keyakinan, itu bukan hal yang sukar bagiNya. Menurut M. Natsir; hikmah ilahi dari realitas bermacam-macam kepercayaan dan keyakinan yang akan terus ada di dunia, untuk menguji siapakah diantara bermacam-macam golongan itu yang lebih baik amal dan akhlaknya dalam hidurp di dunia ini. Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal CS, Pustaka al Kausar, Jakarta, 2010, hlm 43

[10] Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal CS, Pustaka al Kausar, Jakarta, 2010, hlm 39

[11] Ibid, hlm 58

[12] Ibid, hlm 57

[13] Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran, Gema Insani Press, cet I, 2008, Jakarta, hlm. 82

[14] Diambil dari Islam dan Pluralisme Agama, Qosim Nursheha Dzulhadi, PKU ISID Gontor.

[15] ibid

[16] Lihat, Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran, Gema Insani Press, cet I, , Jakarta, 2008, hlm. 82-83.

[17] Dr. Adian Husaini, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi. hlm 119

[18] Ibid, hlm 120

You may also like...