Ibnu Taimiyyah dan Tajdid

Oleh : Supian Tsauri, Lc., M.Ag

 Pendahuluan

 Dalam perkembangan pemikiran Islam atau tepatnya ijtihad dan tajdid, telah mengalami puncak keemasannya pada kurun waktu akhir-akhir abad pertama hijriah, sampai pertengahan abad keempat hijriah. Pada periode itulah, para ulama besar bermunculan membawa ijtihad dan tajdid, yang menyebabkan khazanah intelektual Islam maju pesat. Seperti para imam yang empat yang dikenal al-aimmah al-arba’ah, mereka telah mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang besar, dengan karya-karya yang mengagumkan. Mereka adalah Imam Abu Hanifah Ibn Nu’man (699-772M), Imam Malik Ibn Anas (712-798M.),Imam Ibn Muhammad Ibn Idris asy-Syafii’ (766-820M.), dan Imam Ahmad Ibn Hanbal (780-855M.)

 Kemudian masa-masa berikutnya, ghiroh mengalami kemunduran dan terus menerus berkurang, karena kecenderungan untuk berlandaskan dalil al-Quran dan hadis telah bergeser kepada pada madzhab tertentu. Dan lebih parahnya taasub madzhab (fanatic madzhab) melanda pemikiran kaum muslimin, diantaranya terjadinya kritik negative kepada madzhab tertentu. Maka tidak bisa dihindari, kaum muslimin dilanda taklid buta kepada pendapat imam-imam tertentu. Padahal, para imam tersebut tidak menginginkan terjadinya taklid kepada pendapat-pendapatnya, sebelum mengetahui dari mana mereka mengambil dasarnya.

 Namun pada masa tersebut, bukan berarti daya pemikiran kaum muslimin tidak ada sama sekali, terbukti beberapa tokoh besar semisal al-Izz Ibn Abdussalam (578-666 H.), Ibn Daqiq al-Id (615-702H.), al-Bulqini (724-805H.), Ibn Rifa’h (645-710M.), Ibn Hajar al-Asqolani,(773-858H)Ibn Humam (790-911 H.), Ibn Hajib ( 570-646 H.), dan Ibn Taimiyyah (661-728 H).

 Dan terakhir ini Ibn Taimiyyah, sebagai salah satu tokoh besar dunia dengan ijtihad dan tajdidnya merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di masa kini dan menjadi rujukan utama sebagai tokoh penolak taklid. Karena itulah, Ibn Taimiyyah dianggap oleh sebagian kalangan sebagai tokoh yang controversial dan ekstrim yang sangat berbahaya, terutama dengan ide-idenya tentang tradisi yang dianggap telah keluar dari syariat. Namun untuk bisa menentukan demikian, seharusnya melalui penilaian yang obyektif sejauhmana ide-ide tersebut dibangun.

Ibn Taimiyyah melalui karya-karyanya, telah membeberkan berbagai macam-macam masalah dan landasan-landasan idenya diantaranya rujuk kepada al-Quran dan hadis. Karena itulah, karya-karyanya selain menyampaikan dalil akal sebagai penunjang, juga menyertakan dalil nakl yaitu al-Quran dan hadis, yang selalu menghiasi karya–karya tersebut sebagai landasan utama. Hal ini menunjukan, penguasaan al-Quran dan hadis baginya sangat diperlukan, dan sekaligus menyatakan, bahwa tanpa landasan al-Quran dan hadis merupakan cara yang salah kaprah.

 Dengan demikian, masalah yang akan dijawab pada makalah ini ialah, Bagaimanakah pengaruh tajdid ibn Taimiyyah bagi dunia Islam?

 

 Beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini ialah:

  1. Menyimak dan memahami pandangan ibn Taimiyyah tentang tajdid

  2. Memperkenalkan kembali pandangan Ibn Taimiyyah yang kemungkinan bisa dikembangkan terutama pada saat ini

  3. Menghargai jasa-jasa ulama-ulama, khususnya Ibn Taimiyyah yang telah mengkhidmahkan hidupnya untuk ilmu.

 

 Riwayat Hidup Ibn Taimiyyah

                  Ibn Taimiyyah nama lengkapnya adalah, Taqiyyuddin Abu al-Abbas Ahmad Ibn al-Alim al-Mufti Syihabuddin Abdul Halim Ibn al-Imam Syaikh al-Islam Mujiduddin Abu al-Barokat Abd as-Salam Mualif al-Ahkam Ibn Abdulloh Ibn Abu al-Qosim al-Harroni Ibn Taimiyyah[1]. Lahir, 10 Robiul awwal tahun 661H di Harron- siria, pada hari Senin dan wafat di Damaskus pada malam Senin 20 Dzulkaidah 728 H[2].

                   Sekaliber Ibn Taimiyyah sebagai tokoh ilmuwan muslim, keberhasilannya tidak lepas dari keberadaan lingkungan yang kondusif, dan mendukung untuk mencetak pribadi yang berilmu. Ia terlahir dari keluarga yang sangat menyenangi ilmu, atau tepatnya dari keluarga yang orang-orangnya merupakan figur-figur ulama yang sangat dibanggakan. Ayahnya, Syiihab ad-din Abd al-Halim (627-682) adalah seorang ulama yang memiliki kedudukan sebagai Imam, khotib dan mualim dalam bidang tafsir dan hadis di mesjid agung Damaskus. Selain itu, ia juga direktur madrasah Dar al-Hadis as-Sukariyyah, sebagai lembaga bermadzhab hambali yang maju saat itu. Melalui tangan beliaulah, Ibnu Taimiyyah kecil dididik dan dibina[3].

                   Kakeknya, Syekh Majd ad-Din Abi al-Barokat Abd as-Salam Ibn Abd Alloh (590 H.-1250H.) yang oleh asy-Syaukani disebut sebagai mujtahid muthlak merupakan seorang yang alim juga terkenal ahli dalam bidang tafsir, bidang hadis, bidang ushul fiqh, bidang fiqh, bidang nahwu dan seorang pengarang. Pamannya yang bernama Fakhr ad-Din, juga seorang alim dan pengarang terkenal. Dan Syaraf ad-Din Abd Alloh Ibn Abd al-Halim (696 H.-726H.), dikenal sebagai ilmuwan yang ahli dibidang faroidh, bidang ilmu hadis, dan ilmu matematika[4].

                   Ibnu Taimiyyah sendiri masa kecilnya sangat terkenal dengan kecerdasannya, yang menyebabkan guru-guru terkagum-kagum kepadanya. Sebelum menginjak umur 10 tahun, ia mampu menguasai berbagai macam ilmu seperti hadis, fiqh, khoth, hisab dan tafsir. Masa kecilnya, sangat berbeda dengan anak-anak sebayanya yang senang menghabiskan waktunya untuk bermain dan bercanda gurau. Ia lebih memilih majelis-majelis ulama, untuk belajar dan menimba ilmu mereka. Tidaklah heran setelah berumur 17 tahun, ia telah memulai untuk mengarang dan berfatwa. Pada masa belia seperti itulah, Ibn Taimiyyah telah terkenal dan menjadi seorang faqih dikalangan hanabilah, sekaligus pengganti majelis ilmu sepeninggal bapaknya.[5]

                   Di saat pasukan tatar mongol menguasai Damaskus, Ibn Taimiyyah bangkit menyeru umat Islam berjihad di Jalan Alloh. Kemudian ia meminta sultan Mamluk, yakni Malik an-Nashir Muhammad Ibn al-Manshur al-Qolawun (w. 741 H.) supaya mengirim bantuan militer. Ketika itu, Ibn Timiyyah berada di garis depan memimpin pasukan para ulama yang ikut serta dalam jihad. Dengan kegigihannya, pasukan Tatar yang dipimpin Qozan berhasil untuk dihadang dan dikalahkan sehingga kekuasaan Tatar di Damaskus tidak bertahan lama.[6]

                   Ibn Taimiyyah adalah seorang yang kuat iman, fasih lisan, berhati pemberani, berilmu luas, dan sekaligus kekuatan dahsyat dihadapan musuh-musuhnya yang senanttiasa memperhitungkannya beribu-ribu kali. Maka tidaklah heran, orang-orang menjadi tergantung kepadanya dan ingin bersama barisannya. Kesehariannya, diisi dengan mengajar dimasjid, memberikan pengarahan kepada orang-orang tentang masalah-masalah agama, dan menjelaskan masalah halal-haram dan membela sunah.[7]

                   Namun hal itu, menjadikan para pesaingnya merasa tidak senang dan sekaligus penyebab masalah antar ia dengan Sulthon Rukn ad-Din Baibars al-Janskir. Lalu ia dppindahkan ke Mesir dan dihadirkan kepengadilan, yang dihadiri oleh para qodhi dan para pembesar Negara saat itu dengan vonis penjara. Setelah hukuman penjara sekitar 1 tahun 6 bulan, Ia dibebaskan dan orang-orang mengadakan majlis diskusi antara ulama dengan Ibn Taimiyyah. Dalam diskusi tersebut, Ibn Taimiyyah berhasil mematahkan argumentasi lawan-lawanya, sehingga ia diasingkan ke syam, lalu ia kembali lagi ke Mesir lalu dipindahkan ke Iskandariyyah untuk dipenjara sekitar 8 bulan[8]

                   Demikianlah, ujian terus-menerus menimpa ibn Taimiyyah, sampai ia kembali ke kairo. Melalui keputusan an-Nashir Ibn Qolawun, Ibn Taimiyyh dibebaskan dari berbagai tuduhan yang diarahkan kepadanya, dan Ia di berhak untuk membalas lawan-lawanya. Namun, Ibn Taimiyyah membiarkan mereka, tanpa mengajukan mereka ke pengadilan sebagaimana yang telah dilakukan mereka pada dirinya.[9]

                   Selama di Kairo, Ibn Taimiyyah melakukan aktivitas dengan meyebarkan ilmu, metafsirkan al-Quran dan berdakwah kepada orang-orang muslim agar mereka berpegang teguh kepada al-Quran dan as-Sunnah. Kemudian, ia kembali melakukan perjalanan ke Damaskus setelah 7 tahun lamanya ia meninggalnya. Selama disana, ia mengeluarkan berbagai fatwa yang menyebabkan penguasa ketika itu memintanya agar merubah fatwa tersebut. Namun, Ibn Taimiyyah tetap kukuh mempertahankan fatwanya dan ia katakan satu ungkapan:

لا يسعني كتمان العلم

Artinya: tidak ada ruang bagiku untuk menyembunyikan ilmu.

Akhirnya, penguasa menangkapnya dan menjebloskannya ke dalam penjara selama 6 bulan. Setelah keluar dari penjara, ia kembali mengeluarkan fatwa yang menurutnya sesuai dengan petunjuk al-Quran dan as-Sunnah.[10]

                   Namun, para lawannya mencari celah yang tepat untuk menjatuhkan ibn Taimiyyah. Ketika Ibn Taimiyyah berfatwa tentang ziyaroh kubur ke kuburan nabi dan orang-orang sholih, para lawannya kembali melakukan kedholiman, sehingga ia dipenjara kembali bersama saudaranya sekaligus pelayannya. Padahal menurut Ibn Taimiyyah, apa yang dikemukakan fatwanya tidak bertentangan dengan petunjuk al-Quran dan as-Sunnah yaitu bahwa ziarah kubur ke tempat para nabi dan orang-orang sholih tidak wajib.[11]

                   Walaupun dalam keadaan yang sulit, Ibn Taimiyyah tetap aktif menulis. Hal itu menyebabkan, orang-orang yang memusuhinya melakukan pelarangan dengan maksud, agar suara Ibn Taimiyyah tidak terdengar kembali. Tinta dan kertas dilarang masuk , namun ia tetap berkarya dengan mengambil arang di atas kertas yang berserekan sebagai penggantinya. [12]

Ibn Taimiyyah wafat pada tahun 728 H, ketika itu orang-orang berbondong-bondong untuk menghadiri jenazahnya dengan jumlah hadirin sekitar 500. 000 orang. Diantara ungkapannya yang terakhir lagi masyhur:

{ ما يصنع أعدائي بي أنا جنتي وبستاني في صدري، أين رحت فهي معي، لا تفارقني، أنا حبسي خلوة. وقتلي شهادة، وإخراجي من بلدي سياحة.}

Artinya: Apapun yang dilakukan musuh-musuhku kepadaku, surgaku dan tamanku tetap ada dalam dadaku. Dimana aku pergi, ia selalu bersamaku. Penahananku adalah suatu renungan, terbunuh adalah syahid dan pengasingan adalah bertamasya.[13]

Guru-Guru Ibn Taimiyyah dan Murid-muridnya

                   Sekaliber Ibn Taimiyyah yang luas pandangannya, tentulah peran guru ketika masa-masa pendidikan, menjadi factor utama . Diantara guru-gurunya yang terkenal, yaitu bapaknya yang bernama Abd al-Halim Ibn Abd as-Salam, pamannya al-Khotib Fakhr ad-Din, Ibn Abd aa-Daim, al-Qosim al-Irbili. Muslim Ibn Alan, dan Ibn Abi Amr[14]dan lain-lain.

                   Sebagai guru besar yang memiliki uswah dalam ilmu dan amal, tentu banyaklah orang-orang yang ingin berguru kepadanya. Diantara murid-muridnya adalah Ibn al-Qoyyim al-Jauziyyah (691-751 H.), Ibn Kasir (701-774 H), al-Hafid adz-dzhabi (673-748 H), Ibn Abd al-Hadi (744-765 H.) ,dan Ibn al-Wardi[15].

 Karangan-Karangan Ibn Taimiyyah

                   Ibn Taimiyyah adalah seorang alim yang sangat produktif dalam hal tulis menulis. Keadaan mihnah(ujian) yang terus menerus tidak menyebabkan ia terhenti dan justru karya-karyanya semakin bertambah. Karena itulah karya-karyanya yang terkumpulkan mencapai 400.000 lembar atau 400 jilid[16]. Diantara karangan-karangannya : at-Tawassul wa al-Wasilah, Naqd al-Mantiq , al-Fatawi , as-Siyasah as-Syari’yyah Fi Ishlahi ar-Roi’ wa Roi’yyah, ar-Rod ala al-Akhnai’,al-Istigosah, Nadhzoriyyah al-Aqd,Majmu’ Rosail, as-Shorim al-Maslul Ala Syatimi ar-Rosul, al-wasitoh baina al-Haq wa al-Bathil,al-Furqon baina Auliyaullh wa Auliya as-Syaithon, Minhaj as-Sunnah,al-Jamu’ Baina al-Aqli wa Naqli, alAiman dan lain-lain.[17]  

                   Karya-karyaIbn Taimiyyah yang banyak tersebut yang sempat berceceran, sekarang telah dikumpulkan sebagiannya dalam kitab majmu fatawa. Kitab-yang terdiri dari 37 jilid tersebut merupakan kerja keras syekh Abd ar-Rohman Ibn Muhammad Ibn Qosim, dengan bantuan anaknya yang bernama Muhammad. Berbagai fan al-ilm terkumpul dalam kitab majmu fatawa diantaranya tauhid, Fiqh, tafsir dan tashowuf yang sekaligus komentar Ibn Taimiyyah terhadap penyelewengan-penyelewengan yang ada.

Gelar-Gelar Ibn Taimiyyah

                   Ibn Taimiyyah adalah alim yang mutafannin atau ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu sebagaimana dikatakan al-Mizi:

Beliau adalah seorang guru besar, seorang pemimpin, guru besar dalam agama islam dan pembela agama. Lalu aku menemukan ia (Ibn Taimiyyah) salah seorang yang berilmu luas lagi menguasai sunnah dan atsar melalui penalarnnya. Jika berbicara dalam bidang tafsir maka ia adalah ahlinya. Jika berfatwa masalah fiqh maka ia adalah pakarnya. Jika ia berbicara hadis maka ia adalah menguasai ilmunya dan riwayatnya. Atau Jika ia berbicara masalah-masalah perbedaan agama dan alirannya ia adalah orang luas wawasannya. Ia adalah seorang yang hebat yang tidak pernah aku melihat semisalnya.[18]

                   Ibn Daqiq al-Id: Aku melihat seseorang (IbnTaimiyyah) dimana seluruh ilmu ada diantara kedua kelopak matanya. Ia mengambil mana yang ia sukai dan meninggalkan mana yang ia kehendaki[19]. Banyak lagi yang lainnya yang memberikaan komentar yang sama tentang keluasan ilmunya yang tidaknya hanya dalam satu bidang namun dalam berbagai bidang.

                   Karena itulah tidak mengherankan apabila Ibn Taimiyyah menyandang beberapa gelar ilmuwan. Diantara gelar tersebut adalah Syaikh, Al-Imam, Syaikh Al-Islam, Mujaddid Din Al-Islam, Mujaddid Ummah Al-Islamiyyah, Imam Al-Ulama, Hafidzh Al-Anam, Nashir As-Sunnah Wa Qomi’ Al-Bida’h, Al-Mujtahid Fi Al-Ahkam, Muhhy Asar Salaf, Imam As-Saif Wa Al-Qolam,Eminent Muslim, Theologian, Briliant Polemicas, The Great Century Jurist, Bapak Spiritual Dan Bapak Kaum Pembaru[20].

Landasan Tajdid Ibn Taimiyyah

                   Tajdid dalam bahasa arab berasal dari جدد يجدد تجديد berarti اذا صار الشيئ جديدا artinya menjadi sesuatu yang yang baru atau  اعادة الشيئ بعد فترةartinya mengembalikan sesuatu setelah waktu tertentu[21]. Tajdid dalam agama adalah suatu yang mesti akan terjadi, agar agama yang telah dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW senantiasa terjaga dan terpelihara. Sebagaiman sabda Nabi[22],

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ فِيمَا أَعْلَمُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا »

Artinya: Dari Abu Huroiroh tentang sesuatu yang aku ketahui dari Rosululloh SAW. Beliau bersabda, sesungguhnya Alloh akat membangkitkan untuk umat ini pada awal setiap tahun 100 tahun orang yang memperbaharui agamanya.

               Ibn Taimiyyah sebagaimana disebutkan diatas, memperoleh gelar yang sangat banyak diantaranya bahwa ia seorang mujaddid. Bagi seorang mujaddid tentulah, ia memiliki landasan-landasan tertentu dalam memunculkan tajdidnya. Berikut ini beberapa landasan tajdid Ibn Taimiyyah:

Pertama, hukum halal, haram dan agama secara kesuluruhan ditentukan oleh Alloh dan RasulNya.

[23]فالحلال ما حلله الله ورسوله، والحرام ما حرمه الله ورسوله، والدين ما شرعه الله ورسوله

Artinya : Halal adalah sesuatu yang dihalalkan oleh Alloh dan RasulNya. Haram adalah sesuatu yang diharamkan oleh Alloh dan RasuNya. Dan agama adalah sesuatu yang disyariatkan oleh Alloh dan Rasulnya.

                   Ibn Taimiyyah memandang bahwa masalah dan halal dan haram hanya ditentukan oleh Alloh dan Rasulnya, tidaklah bagi selain keduanya memiliki hak untuk menentukan halal dan haram. Dan orang yang berani melakukan penghalalan dan pengharaman berarti sama saja meyamai hak Alloh. Ibn Taimiyyah ingin menegaskan, bahwa makhluk tidak memiliki kewenangan untuk mengatur halal dan haram. Karena halal dan haram hak penuh alloh SWT dan RasulNya. Dan sekaligus perlunya setiap orang berhati-hati dan menjaga dirinya untuk tidak mempermudah ketika menetunkan halal dan haram.

                   Tentang agama yang berlandaskan syariat Alloh dan RasulNya, maksudnya adalah ibadah kepada Alloh. Menurut Ibn Taimiyyah ibadah harus berlandaskan aturan Alloh dan Rasulnya,tidak seorangpun berhak melakukan hal-hal yang baru yang tidak ada sumbernya dari Alloh dan RasulNya.

الْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى الشَّرْعِ وَالِاتِّبَاعِ لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ[24]

Artinya:Ibadah didirikan diatas syara’dan ittiba’ tidak berlandaskan atas hawa nafsu dan bida’h.

Maka dengan ini, Ibn Taimiyyah memperketat ruang lingkup ibadah hanya hal-hal yang ada petunjuk dari Alloh dan RasulNya atau istilah lain tauqifi.

                   Namun, hal ini bukan berarti menutup sempit ruang-ruang ibadah yang lainnya, yaitu macam-macam ibadah yang tidak dijelaskan oleh Alloh dalam Al-Quran dan Rasul dalam as-Sunnah secara rinci. Menurutnya, ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai oleh Alloh dan rasulnya, terdiri dari perkataan dan perbuatan yang konkrit maupun abstrak[25]. Maka, akan mudah dipahami bahwa ibadah memliki makna yang sangat luas. Segala hal yang dicintai oleh Alloh dan RasulNya selama tidak melakukan seperti menambahi, mengurangi, mengada-ada caranya ibadah yang sudah jelas petunjuknya dan aturannya atau mengadakan suatu perbuatan yang dianggap sebagai ibadah yang baru.

                   Kedua,al-Quran dan hadis adalah pedoman lengkap untuk mencapai kesempurnaan yang hakiki. Menurutnya al-Quran adalah ashl jami’ wajib berpegang teguh kepadanya. Keselamatan dan kebahagiaan dengan mengikutinya dan kecelakaan dengan menyalahinya[26]. Untuk menguatkannya, Ibn Taimiyyah menyebutkan beberapa dalil al-Quran:

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

Artinya: Alloh berfirman, turunlah kalian berdua dari surge, sebagian kalian adalah musuh bagi yang lainnya. Maka jika datang kepada kalian petunjuk dariku, maka barangsiapa mengikuti petunjukku maka ia tidak akan sesat dan celaka.

 وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Artinya: Dan barangsiapa berpaling dari mengingatku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan kami mngumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

                    Dan Ibn Taimiyyah menjadikan hadis shohih sebagai landasan yang tidak boleh ditolak oleh siapapun dan ia harus didahulukan dari pada pendapat orang lain. Sambil menukil perkataan Ibn Abbas ketika ditanya oleh sesseorang tentang suatu masalah, lalu ia menjawabnya dengan hadis Nabi. Namun, orang yang bertanya tersebut bukanlah menerima hadis Nabi malah membantahnya dengan perkataan Abu Bakar dan Umar. Ibn abbas berkata, hampir saja batu dari langit turun atas kalian,. Aku mengatakan, telah berkata Rosulululloh SAW dan kalian mengatakan telah berkata Abu Bakar dan Umar.[27]

                   Ketiga, menjadikan akal sebagai alat untuk memahami al-Quran dan hadis dan kedudukan akal adalah dibawah keduanya. Pandangan ini memliki korelasi dengan landasan-landasan yang sebelumnya yaitu menjadikan syariat Alloh dan RasuNya sebagai sumber utama. Maka menurut Ibn Taimiyyah, jika bertentangan naql dan akal wajib kedudukan naql didahulukan daripada akal. Namun, Ibn Taimiyyah tetap menghargai keberadaan akal dengan menjadikan naql shohih sebagai sumber yang tidak mungkin bertolak belakang dengan akal yang shorih(jelas)[28].

                   Keempat, menolak takwil ayat-ayat al-Quran sebgaimana dilakukan oleh para ulama ushul dan tafsir mutakhirin. Menurut ulama mutaakhirin, takwil adalah memalingkan suatu dari makna rojih (kuat) ke makna marjuh (lemah) dengan sesuatu yang menyrtainya[29]. Takwil seperti ini dalam pandangan Ibn Taimiyyah tidak dibenarkan, karena takwil menurut jumhur ulama memiliki 2 makna: Pertama takwil dengan arti tafsir, dan menurutnya takwil dengan arti tafsir merupakan pemaknaan para mufassirin salaf seperti Ibn Abbas, Mujahid, Muhammad ibn Ja’far Ibn Zubair , Muhammad Ibn Ishak. Ibn Qutaibah dan lainnya. Kedua, takwil dengan hakikat yang menjadi asalnya suatu kalam.[30]

                   Untuk makna takwil yang berarti tafsir dalam pandangan Ibn taimiyyah merupakan maksud takwil dari firman Alloh swt:

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ

Dan tidak mengetahui takwilnya kecuali Alloh dan orang-orang yang rosih dalam ilmu.

Sedangkan arti yang kedua yaitu hakikat sebagaimana firman Alloh dalam al-Quran:

يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا

Atinya: Wahai ayahku, ini adalah takwil mimpiku sebelumnya. Robku (Alloh) telah menjadikannya suatu hak.

                   Kelima, Ibn Taimiyyah menempatkan selain Nabi dan Rasul sebagai makhluk makhluk yang tidak makshum. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa dilepaskan dari kekeliruan dan membuat kesalahan. Karena itulah pendapat seseorang imam tidak bisa dinyatakan suatu yang patut dibela dan dinyatakan sebagai pendapat yang benar satu-satunya. Menurutnya,

فَإِنَّا لَا نَعْتَقِدُ فِي الْقَوْمِ الْعِصْمَةَ, بَلْ نُجَوِّزُ عَلَيْهِمْ الذُّنُوب, وَنَرْجُو لَهُمْ مَعَ ذَلِكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ[31]

Artinya: Maka sesungguhnya kami tidak meyakini pada suatu kaum terdapat ishmah tetapi kami memungkin atas mereka dosa. Dan kami berharap semoga mereka bersamanya derada diderajat yang paling tinggi.

Respon Dunia Islam Terhadap Tajdid Ibn taimiyyah

                   Nama Ibn Taimiyyah bagi aktivis gerakan dakwah dari dulu sampai saat ini, merupakan salah satu nama yang tidak asing. Ide-idenya yang cemerlang dan gerakan dakwahnya yang reformis yang berarti anti kejumudan, menjadi salah satu hal yang sangat menarik. Berbagai buku-bukunya menjadi bahan kajian dan rujukan. Demikian itu bukti, bahwa ibn Taimiyyah adalah tokoh yang berkontribusi, dan sekaligus telah memberikan andil dalam tajdid pemikiran dunia Islam.

                   Di dunia internasional terdapat tokoh-tokoh besar yang disebut sebagai orang-orang terjasai oleh tajdid Ibn Timiyyah misalnya Syah Wali Alloh dari india, Muhammad Ibn abd al-Wahhab, Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridho. Semua tokoh tersebut menyatakan dirinya sebagai tokoh-tokoh tajdid yang pernah diusung oleh Ibn Taimiyyah dan menjadikan karya-karyanya sebagai karya yang penting untuk dibaca dan simak. Sebagaimana dikatakan Muhammad Rasyid Ridho:

وَلَا نَعْرِفُ فِي كُتُبِ عُلَمَاءِ السُّنَّةِ أَنْفَعَ فِي الْجَمْعِ بَيْنَ النَّقْلِ وَالْعَقْلِ مِنْ كُتُبِ شَيْخَيِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَةَ وَابْنِ الْقَيِّمِ – رَحِمَهُمَا اللهُ – تَعَالَى – ، وَإِنَّنِي أَقُولُ عَنْ نَفْسِي : إِنَّنِي لَمْ يَطْمَئِنُّ قَلْبِي بِمَذْهَبِ السَّلَفِ تَفْصِيلًا إِلَّا بِمُمَارَسَةِ هَذِهِ الْكُتُبِ [32].

Artinya: Dan tidak kami ketahui dalam berbagai kitab para ulama hadis yang pembahasannya dalam mengkompromikan naql dan aql lebih bermanfaat dari buku syekh al-Islam Ibn Taimiyyah dan Syekh al-Islam Ibn al-Qoyyim al-Jauziyyah ra dan aku sendiri berkomentar tentang diriku; sesungguhnya aku pada mulanya merasa tidak tentram hatiku dengan memegangi mazhab salaf secara detail, kecuali setelah berulang-ulang menelaah kitab Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qoyyim.

                   Sedangkan di Indonesia pengaruh Ibn Taimiyyah telah masuk ketika masa perjuangan melawan penjajah yaitu perang padri yang dipimpin Imam Bonjol untuk melawan penjajah belanda. Kemudian karya-karyanya menjadi karya-karya yang dipelajari di lembaga pendidikan Islam di Sumatera Barat yang bernama Sumatera Thawalib tepatnya di daerah Padang Panjang dan Parabek yang didirikan tanggal 15 Februari 1920. Keberadaan lembaga ini tidak bisa dilepaskan dari berkat usaha dan jerih payah dakwah dari Syekh Muhammad Taher Djalaluddin , Syekh Muhammad Djambek, Haji Abdul Karim Amrulloh/Haji Rasul dan Haji abdulloh Ahmad[33].

                   Ibn Taimiyyah dengan pengaruh tajdidnya di dunia Islam dapat diklasifikan dalam beberapa hal:

1. Menyadarkan kaum muslimin untuk kemurnian agama dengan merujuk al-Quran dan hadis sebagai rujukan yang utama dan menjadikan pemahaman salaf sebagai pemahaman yang harus diikuti. Menurut Muhammad Rosyid Ridho, sikap demikian merupakan sikap ketakwaan seseorang kepada Alloh dan ketakwaan tidak mungkin diperoleh kecuali dengan memahami kitabulloh, mengetahui sunnahnya dan mengetahui perjalanan salaf sholih sebagai petunjuk yang tidak dipisahkan[34].

2. Menjauhkan umat dari kesyirikan dan kembali kepada ajaran tauhid yakni beribadah hanya kepada Alloh semata. Menurut Muhammad Rasyid Ridho, hal ini adalah ruhnya Islam dan yang dimaksud dari iman dan barang siapa yang terlepas darinya maka ia terlepas dari agama secara menyeluruh.

3. Menyerukan ijtihad dan menjauhkan taklid buta.

4. Mengembalikan kejayaan kaum muslimin dengan berjihad dijalan Alloh.

Kesimpulan dan Penutup

                   Dengan membaca riwayat hidup Ibn Taimiyyah, dengan tanpa menutup pro kontra tentang ketokohannya dalam dunia Islam, dapat disimpulkan bahwa pengaruh tajdid ibn Taimiyyah sangat besar bagi dunia Islam dan sekaligus seorang mujaddid yang sangat berjasa. Kesimpulan tersebut didasarkan beberapa alasan:

Pertama, pengakuan tokoh-tokoh di dunia tentang keberhasilan dakwah Ibn Taimiyyah dan pengaruhnya yang kuat bagi pencerahan umat.

Kedua, karya-karyanya yang mengagumkan adalah salah satu rujukan penting bagi para aktivis dakwah di dunia Islam.

Ketiga, kebangkitan umat Islam di dunia khususnya perjuangan Indonesia melawan penjajah terilhami pemikiran Ibn Taimiyyah misalnya perang padri yang dipimpin oleh Imam Bonjol.

Dengan kesimpulan tersebut beserta dasar-dasarnya sekiranya bisa menguak sosok Ibn Taimiyyah dan pemikirannya tajdidnya. Namun dengan ini bukan berarti untuk mengkultuskan tokoh tertentu dan mengenyampingkan yang lainnya. Semua ulama Islam telah berjasa kepada agama ini dan memberikan kontibusi yang mulia, kewajiban generasi selanjutnya adalah mengikuti dan meneladaninya.“Mereka adalah umat yang telah lewat, mereka mendapatkan apa yang mereka lakukan dan kalian mendapatkan apa yang kalian lakukan.Sedangkan kalian tidak akan dimintai pertanggung j

You may also like...